Dampak Wabah Virus Corona terhadap Produksi Iklan

Addiction.id-Jakarta. Wabah virus corona kian menghantui dunia. Industri periklanan kena imbasnya.

Dilansir dari CNBC, para ahli mengatakan jika wabah virus corona berlanjut secara signifikan, hal itu dapat meningkatkan pengeluaran iklan di ragam bidang, seperti permainan mobile atau layanan streaming. Pasalnya, saat wabah, konsumen cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.

Sedangkan, pengeluaran iklan di luar rumah cenderung berkurang. Pembatalan acara besar, seperti Olimpiade, pun mempengaruhi pengeluaran iklan.

Tingkat penahanan akan mengubah dampaknya

Pada minggu lalu, World Research Research Center dalam laporan Global Ad Trends mengatakan tentang pengeluaran iklan. Jika krisis tetap ada, pengeluaran iklan akan ditunda sampai akhir tahun ini. Grup ini puan memperkirakan, pengeluaran iklan akan mencapai $ 660 miliar tahun ini. Namun, angka itu belum termasuk antisipasi dampak virus corona. Jika termasuk, pengeluaran akan dialokasikan ulang.

“Hubungan periklanan dengan GDP itu kuat. Namun, lambannya output ekonomi karena wabah virus tidak akan serta merta disimpulkan untuk mengurangi investasi periklanan,” tulis laporan itu. Namun, jika acara seperti Olimpiade Tokyo atau turnamen UEFA Euro ditunda atau dibatalkan, lanjutnya, itu akan berdampak penting.

James McDonald, redaktur pelaksana WARC Data, mengatakan bahwa gangguan besar dari virus corona dapat menyebabkan pembatasan jangka panjang pada pergerakan dan pertemuan besar. “Hal itu bisa berdampak pada pengeluaran di bidang-bidang seperti bioskop, pasar periklanan di luar rumah dan bahkan radio–karena begitu banyak radio yang dikonsumsi selama perjalanan,” sambungnya, pada Selasa (3/3).

Jika orang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, mereka cenderung menggandrungi layanan streaming, media sosial, dan game mobile. “Di bidang ini cenderung terjadi peningkatan investasi iklan,” ucap McDonald.

Collin Colburn, analis senior Forrester yang fokus pada pemasaran B2C, mengatakan bahwa penyedia streaming dan layanan pengiriman–seperti Grubhub atau Uber Eats–mungkin akan meningkatkan iklan, jika orang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan.

Namun, ia menyebutkan, jika barang-barang untuk mengiklan terkait dengan perusahaan manufaktur, maka industri dapat mengurangi pengeluaran iklan. “Anda mungkin tidak ingin menjadi produk iklan jika tidak ada inventaris,” sambungnya.

Masalah ekonomi akan memberi dampak yang lebih luas pada industri periklanan. Sebab, pengiklan kembali anggaran mereka. “Periklanan adalah [area] yang mudah untuk berpotensi dipotong dalam waktu di mana ada ketidakpastian,” lanjut Colburn.

Situasi di Cina
“Cina akan sangat berguna jika membaca bagaimana situasi ini dapat terjadi,” kata Brian Wieser, presiden global intelijen bisnis untuk Group M, badan agensi media WPP.

Pada Senin (2/3), Wieser dalam postingannya menyebutkan, aktivitas warga Cina di tengah wabah virus corona dibatasi dengan pembatasan perjalanan dan penutupan bisnis. Orang-orang pun menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengkonsumsi media, dan lebih sedikit waktu untuk berbelanja.

Namun, saat laju wabah di Cina mulai melambat, lanjut Wieser, toko dan pabrik mulai dibuka kembali.

“Singkatnya, tampaknya ada optimisme kembali normal–atau setidaknya ‘baru normal’–dalam beberapa bulan mendatang. Sayangnya, sekarang banyak bagian dunia lain yang baru saja mengalami apa yang telah dilalui Cina selama dua bulan sebelumnya. Ini berarti bahwa kita kemungkinan belum melihat hal terburuk terjadi,” lanjut Wieser.

Wieser mengatakan terdapat kemungkinan resesi yang realistis bagi banyak negara. Setidaknya dalam jangka pendek. Seberapa besar resesi tersebut dapat memengaruhi pengeluaran iklan sulit diprediksi.

“Meskipun terlalu dini untuk mengantisipasi, penurunan dua digit tersirat dalam pengeluaran iklan di Cina pada kuartal pertama dapat terjadi di tempat lain, dengan penurunan di kuartal berikutnya dan pengondisian kembali, seperti yang kita miliki, terlihat mengikuti resesi lain,” tulisnya.

“Tentu saja, para pemasar yang menghindari pemangkasan umumnya akan mendapat tarif yang lebih baik, mengingat kemungkinan akan menjadi harga yang relatif menguntungkan dan mengurangi persaingan dalam menggaet konsumen. Membangun merek jangka panjang akan mendapat manfaat dari kehadiran media yang berkelanjutan, meskipun dengan pesan yang dimodifikasi dengan tepat,” lanjutnya.

Menanti Situasi
Perusahaan riset pasar, eMarketer, mengatakan sedang mempertimbangkan dampak ekonomi dari virus tersebut, khusus dalam pengeluaran iklan. Sementara itu, Zenith dari Publicis Groupe, yang merilis outlook iklan, mengatakan sedang memperbarui panduannya, mengingat dampak virus korona. Namun, ia belum merincinya.

Bagi CEO agensi media independen, Crossmedia, Kamran Asghar, merasa masih terlalu dini untuk menyimpulkan dampaknya terhadap klien.

“Rekomendasi kami adalah lakukanlah yang terbaik untuk bisnis klien dan pelanggan mereka. Kami tentu siap menghadapi dampak, namun berkomitmen untuk tetap bertahan dan membantu pelanggan mereka menavigasi opsi usaha. Semua klien kami sedang mengevaluasi prosedur yang dapat memengaruhi pengeluaran iklan, tetapi kami belum melihat adanya penarikan kembali, ” lanjutnya.

Untuk saat ini, beberapa daerah yang telah terpukul keras di pasar saham masih mengeluarkan uang untuk iklan. Itu termasuk Carnival Corporation dan merek kapal pesiarnya.

“Kapal-kapal kami bergerak, berlayar ke lebih dari 700 pelabuhan di seluruh dunia. Karenanya, kami dapat dengan cepat memindahkan kapal-kapal pesiar kami sebagaimana diperlukan untuk tujuan-tujuan alternatif. Kami memiliki ribuan tamu yang berlayar bersama kami setiap hari. Kami terus mengiklankan dan mempromosikan pelayaran melalui semua saluran kami dengan semua merek kami,” tutur seorang juru bicara.

(LH)