Menjadi Target Utama Iklan ‘Junk Food’, Remaja Rentan Obesitas

Addiction.id-Jakarta. Maraknya iklan junk food memicu peningkatan angka obesitas pada remaja. Para ahli menyebut hal ini sebagai krisis kesehatan, khususnya di kalangan remaja. Pasalnya, mereka menilai, bahwa remaja mudah dipengaruhi iklan.

Dilansir dari abcnews.go.com Kamis (28/2/2020), pada 2016, industri makanan menghabiskan hampir $14 miliar untuk seluruh iklan–yang memengaruhi pilihan makanan orang Amerika Serikat (AS).

Iklan makanan merupakan pengiklan terbesar kedua di ekonomi AS. Pihak pengiklan menganggap remaja sebagai kekuatan pasar utama. Karenanya, mereka menargetkan remaja, untuk memberi preferensi dan loyalitas merek.

Iklan makanan untuk remaja kerapkali mempromosikan makanan tidak sehat–yang sarat akan lemak dan gula.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), 20,6% dari mereka yang berusia 12 hingga 19 tahun mengalami obesitas. Obesitas pada remaja dapat menyebabkan konsekuensi kesehatan fisik dan mental jangka panjang yang serius. Pun meningkatkan risiko pengembangan penyakit kronis–termasuk penyakit jantung dan diabetes.

“Tidak ada cara yang dapat mengatasi krisis obesitas, kecuali jika pemasarannya diturunkan secara drastis,” ujar Dr. Jennifer Harris, penasihat peneliti senior di Pusat Kebijakan & Obesitas Makanan & Obesitas Universitas Rudd.

“Remaja sangat rentan terhadap iklan ini. Pengaruh teman adalah faktor paling penting dalam banyak pengambilan keputusan mereka. Perusahaan memanfaatkan hal itu. Begitu pula media sosial–agar diakui teman sebaya,” sambungnya.

“Iklan makanan cepat mempengaruhi remaja secara tidak sadar jadi sulit untuk mencegah pengaruhnya,” jelas Ashley Gearhardt, seorang profesor psikologi di University of Michigan.

Penelitiannya menunjukkan bahwa iklan makanan cepat saji mengaktifkan sel yang sangat sensitif dan masih berkembang di otak remaja. Selain itu, makanan tinggi lemak, gula, karbohidrat olahan, garam dan penambah rasa lainnya, telah terbukti adiktif.

“Dari sudut pandang biologis, remaja sangat rentan terhadap hal-hal yang yang adiktif karena sistem penghargaan berkembang dengan cepat dan memuncak pada masa remaja, tetapi bagian-bagian otak Anda yang merupakan rem dan memaksakan kontrol dan menahan diri berkembang lebih lambat,” jelasnya.

Harris mengakui sulit untuk mengukur dengan tepat seberapa besar regulasi pemasaran yang lebih ketat akan menurunkan angka kenaikan obesitas remaja. Namun, Gearhardt mengatakan faktor terbesar adalah perubahan pola makan, pemasaran membuatnya efektif.

Gearhardt menuturkan, perusahaan sekarang juga menggunakan strategi interaktif. Remaja dibombardir dengan promosi di media sosial

Remaja perlu bimbingan. Gearhardt menyarankan, meskipun orang tua tidak dapat mengendalikan setiap pilihan makanan anak-anak mereka, orang tua harus menyediakan makanan bergizi, olahan minimal dan camilan sehat.

“Di negara lain sudah ada kemajuan. Chili memiliki undang-undang komprehensif yang melindungi remaja dari iklan makanan cepat saji yang ditargetkan, tetapi di Amandemen Pertama AS memberi perusahaan hak untuk kebebasan,” tuturnya.

Harris mengatakan bahwa saat ini di AS, tidak ada kebijakan atau peraturan tentang iklan makanan untuk anak berusia 12 tahun ke atas.

“Kita perlu menuntut perusahaan. Saya tidak tahu bagaimana mereka mengaku sebagai warga negara, atau bagaimana bertanggung jawab secara sosial. Semakin banyak komentar di luar sana, mereka harusnya semakin bertanggung jawab, dan bertindak,” lanjutnya.

(LH)