Iklan dengan Adegan Kekerasan, Praktisi Iklan: Masyarakat Apa yang Ingin Dibentuk?

Addiction.id-Jakarta. Banyak yang tak menyadari bahwa iklan memiliki kekuatan yang sangat besar. Salah satu kekuatannya adalah kemampuan repetisi dan menginterupsi perhatian tanpa bisa ditolak. Maka dari itu, iklan harusnya dibuat dengan sangat hati-hati dan mengikuti kaidah etika periklanan yang ada.

Hal itu yang dikatakan oleh Muhammad Ismail Fahmi, praktisi periklanan kepada Addiction.id,Kamis (19/12) di Kantor ISGB, Jl. Wijaya, Jakarta Selatan. Pernyataan Ismet, begitu ia kerap disapa, mengacu pada kontroversi iklan yang produksi oleh Gojek yang menayangkan adegan Pevita Pearce melakukan perkelahian.

Menurut Ismet, semestinya para pembuat iklan mestinya memperhatikan dampak dari iklan yang dibuat. Bukan hanya dampak untuk brand tersebut, melainkan juga buat masyarakat.

“Dengan adegan kekerasan itu, apa mau Gojek diidentikkan dengan kekerasan?” tanyanya.

“Lalu bagaimana dengan anak-anak yang melihat iklan tersebut. Ketika ditanya ia meniru adegan dari iklan. Lalu masyarakat seperti apa yang mau dibentuk oleh kita dengan menampilkan kekerasan?”sambungnya.

Oleh sebab itu, kata Ismet, para praktisi iklan membuat guide lines atau etika yang semestinya dipatuhi oleh pembuat iklan.

“Siapapun boleh berargumen atas nama kreativitas, Tapi how far is too far dari iklan tersebut?” tegas dia.

Dengan prinsip sejauh mana niat dan dampak iklan, kata Ismet, maka swakrama atau membatasi diri sendiri menjadi lebih penting.

“Ini bukan membatasi kreativitas, melainkan semacam kepedulian industri periklanan tentang apa yang kita buat,” imbuh Ismet.

Swakrama dinilai sangat penting oleh Ismet, pasalnya jika tidak dilakukan, maka negara melalui perangkat hukum akan dapat mengintervensi.

“Kita tak mau kalau kreativitas dibatasi dan apapun nanti dapat dibawa ke meja hijau,” tegasnya.