Inggris Larang Iklan Produk Vape di Media Sosial

Addiction.id-Jakarta. British American Tobacco (BAT) dan tiga perusahaan e-rokok lainnya dilarang mempromosikan produk vaping mereka di Instagram oleh pengawas periklanan Britania Raya.

Keputusan hakim terhadap raksasa tembakau FTSE 100 dan pembuat merek termasuk Lucky Strike, Dunhill, Rothmans dan Benson & Hedges, menyoroti taktik yang digunakan untuk memasarkan produk vaping dan e-rokok yang semakin kontroversial kepada kaum muda.

Peraturan Otoritas Standar Periklanan (ASA) melarang iklan rokok tembakau dan e-rokok. Kendati demikian, perusahaan diizinkan untuk memasukkan informasi faktual tentang produk mereka di situs web masing-masing.

BAT, satu dari empat perusahaan yang menerima larangan dari ASA, berargumen akun Vype Instagram-nya setara dengan situs web perusahaan.

ASA menolak argumen tersebut. Pihak ASA menambahkan bahwa iklan yang digerakkan oleh  BAT “jelas melampaui aturan penyediaan informasi faktual dan bersifat promosi”.

Putusan diikuti protes dari gerakan Aksi tentang Merokok dan Kesehatan, Kampanye untuk Anak-anak dan Berhenti Tembakau (Menghentikan Organisasi dan Produk Tembakau). Mereka berpendapat bahwa postingan Instagram dari BAT, Ama Vape Lab, Attitude Vapes dan Mylo Vapes, melanggar aturan periklanan.

Keluhan difokuskan pada posting Instagram termasuk tujuh awal tahun ini oleh BAT untuk merek e-cigarette Vype, tiga di antaranya menampilkan gambar-gambar tulisan penyanyi Lily Allen. Posting lain yang mempromosikan Vype memberi selamat kepada Rami Malek atas penghargaan aktor terbaik Bafta untuk Bohemian Rhapsody dan menampilkan gambar model Olivia Jade Attwood yang merokok e-rokok.

“Putusan ASA adalah langkah besar ke depan dalam mencegah perusahaan tembakau menggunakan media sosial untuk beriklan kepada kaum muda di Inggris dan di seluruh dunia,” ujar Mark Hurley, Diektur Komunikasi Internasional dari Kampanye untuk Anak Bebas Tembakau, salah satu dari tiga organisasi yang melakukqn pengaduan ke ASA.

“Sementara putusan ASA adalah berita bagus, perubahan kebijakan mendesak diperlukan dari Facebook, Instagram dan Twitter untuk mencegah BAT dan perusahaan tembakau lainnya menggunakan media sosial untuk mengiklankan produk berbahaya mereka kepada orang-orang muda di seluruh dunia,” lanjutnya.

Instagram memiliki lebih dari 20 juta pengguna bulanan di Inggris. Hampir 7 juta di antaranya berusia 12 hingga 24 tahun. Lalu 6 juta lainnya berusia 25 hingga 34 tahun. Demikian data menurut perusahaan riset eMarketer.

Putusan ASA muncul sebagai masalah vaping di antara orang-orang muda, dan masalah kesehatan yang muncul terkait dengan e-rokok. Hak itu  meningkatkan tekanan pada pembuat dan pemasar produk. Di AS, terdapar lebih dari 2.300 kasus penyakit paru-paru lantaran vaping. 47 di antaranya termasuk kematian.

Akhir tahun lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS melarang penjualan e-rokok di puluhan ribu toko serba ada dan pom bensin di seluruh AS. Pelarangan ini bertujuan menghambat kenaikan e-rokok di kalangan remaja.

“Ini adalah langkah besar ke depan dalam menghentikan industri tembakau dari mempromosikan produk adiktif baru kepada anak-anak dan remaja,” kata Profesor Anna Gilmore, direktur Grup Penelitian Pengendalian Tembakau di University of Bath.

“Tetapi mengingat penjualan rokok menurun dan perusahaan-perusahaan tembakau sangat ingin merekrut orang-orang muda untuk menggunakan produk-produk baru ini, kewaspadaan yang berkelanjutan sangat penting,” lanjut Gilmore.

Pada bulan Mei, Anak-anak Bebas Tembakau dan lebih dari 125 organisasi dari 48 negara meminta Facebook, Instagram, Twitter, dan Snapchat untuk segera melarang pemasaran tembakau dan e-rokok pada platform mereka. (VRU)