Selama 2019, Iklan Digital di Indonesia Masih Tumbuh 19%

Addiction.id-Jakarta. Belanja iklan di media digital di Indonesia masih menunjukan pertumbuhan signifikan.  Data Mobile Marketing Association (MMA ) Pacific Asia mencatat, pengeluaran perusahaan-perusahaan untuk beriklan di media digital masih tumbuh hingga 19% di tahun 2019. Namun, pertumbuhan ini cenderung menurun dibandingkan pertumbuhan luar biasa –yang hingga tiga digit– pada beberapa tahun yang lalu.

MMA meluncurkan laporan bertajuk Indonesia Mobile  Ecosystem Report 2019 pada medio Desember 2019. Laporan MMA mencakup data primer dan sekunder dari anggota mereka dan sejumlah mitra seperti Facebook, Google, Twitter, Gojek, GroupM, Nestle, Kompas Gramedia, Inmobi, AdColony, Havas Group, Mindshare, Euromonitor International, PubMatic, GlobalWebIndex, Hootsuite, Comscore, dan Telkomsel DigiAds.

Sebelumnya, program Director MMA Asia Pacific Azalea Aina menyebutkan, belanja digital di sepanjang 2018 tercatat mencapai Rp 40 triliun. Itu artinya, belanja digital tahun ini mencapai hampir Rp 48 triliun. Pertumbuhan iklan di media digital dipimpin oleh media video /(+33%) dan media sosial (+27%).

Azalea menjelaskan, perkembangan media digital mendorong para pelaku advertensi untuk meningkatkan efisiensi dan daya jangkau pemasaran,  Para pemasar juga harus meningkatkan kemampuan adopsi periklanan yang dirancang secara khusus atau terprogram. Hal ini diperlukan untuk membuat pesan yang disampaikan pemasar sampai ke target khalayak yang diinginkan di waktu yang tepat dengan konteks yang sesuai.

Dia juga menambahkan, konsumsi digital masyarakat Indonesia tercatat semakin tinggi. Utamanya, konsumsi video digital yang semakin digemari. “Konsumsi video juga semakin tinggi. 90 persen internet user di Indonesia juga mengakses android,” ujarnya.

Dia menyarankan, perusahaan dan agensi harus adaptif dalam melayani populasi pengguna seluler yang besar di Indonesia. Melalui inovasi, perusahaan dapat memanfaatkan jangkauan luas pemasaran untuk meningkatkan tingkat keterlibatan konsumen.

Indonesia Mobile Ecosystem Report 2019 sendiri bertujuan memberikan pemahaman utama yang dapat membantu para pemasar untuk dapat menavigasikan ekosistem berbasis seluler di Indonesia. Laporan ini merupakan lanjutan kesuksesan dari peluncuran Mobile Ecosystem Report yang sebelumnya telah diluncurkan di Vietnam dan India.

MMA Asia Pacific menduga, Indonesia akan menjadi salah satu negara pengguna ponsel pintar terbesar di dunia . Tak kurang dari 410 juta ponsel akan aktif pada tahun 2025. Angka ini menempatkan Indonesia menjadi negara ketiga pengguna ponsel pintar terbesar setelah Tiongkok (1,469 miliar) dan India (983 juta).

Berdasarkan penelitian Global Web Index, hampir 97% pengguna internet di Indonesia juga menggunakan ponsel pintar untuk terhubung ke web. Bahkan, masyarakat Indonesia sudah  beralih dari laptop ke ponsel pada kurun 2014-2019.  Mereka menghabiskan lebih banyak waktu menggunakan ponsel dibandingkan dengan negara lain.

Ketika berinteraksi online di media sosial, 92% pengguna internet di Indonesia rata-rata menghabiskan 3 jam 26 menit per hari. Orang Indonesia memang banyak menghabiskan waktunya untuk di internet. Media sosial juga memengaruhi perilaku orang Indonesia ketika berbelanja online. Itu sebabnya, pemasaran melalui influencer meningkat dan menjadi sebuah tren.

MMA mencatat juga, konsumen Indonesia lebih memilih pelayanan dan pengalaman dibandingkan produk.Bidang Traveling merupakan sektor individual dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia, bahkan menghabiskan sekitar 14% pengeluaran.

Pelayanan dalam bidang kuliner merupakan sektor terbesar kedua dengan angka pengeluaran 19%. Menurut bank investasi JP Morgan, Indonesia adalah salah satu pasar perdagangan seluler paling cepat berkembang di dunia, dan bernilai US$ 7,1 miliar.