ADdiction

Tingkatkan Kesadaran Tentang Bahaya Corona, P3I Buat Iklan Luar Ruang

Addiction.id-Jakarta. Sejumlah pihak, baik dari pemerintah maupun nonpemerintah, turun tangan untuk menekan laju penyebaran pandemi virus Corona atau Covid-19 di Indonesia. Salah satunya Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Jawa Timur dan Yogyakarta.

Asosiasi periklanan ini membuat iklan out of house (OOH) atau iklan luar ruang di sejumlah titik, yang isinya imbauan kepada masyarakat untuk tinggal di rumah dan tidak mudik. Hal itu sebagaimana dituturkan oleh Arief Budiman, Ketua P3I Yogyakarta, saat dihubungi Addiction, Selasa (08/04).

“Setelah mendapat surat edaran dari pemerintah kota dan berunding dengan P3I Pusat, kami sepakat membuat iklan OOH ini,” jelas Arief.

“Hal yang paling bahaya dari pandemi ini yaitu rendahnya kesadaran masyarakat untuk berada di rumah. Pertambahan pasien positif virus corona itu eksponensial. Satu orang bisa menularkan ke orang lain yag banyak. Ini menjadi salah satu concern pembuatan iklan OOH,” ujar Arief, memaparkan dasar pemikiran pembuatan iklan OOH.

Arief mengatakan bahwa memang masih banyak orang yang keluar rumah. Oleh karenanya, iklan OOH dipasang untuk mencari perhatian dan mengimbau mereka yang masih suka ke luar rumah. Sehingga, ia dan pihaknya merasa perlu menaruh iklan OOH di tempat strategis dan ramai, serta di pintu masuk dan batas kota. Pasalnya, di tempat itulah keramaian masih ada.

“Di Yogya, entah karena bosan atau apa, mereka ke Malioboro. Empat sampai lima anak muda bergerombol, suka nongkrong. Makanya, nyaris tiap malem suka ada Satpol PP untuk bubarkan mereka. Iklan OOH kami pun sebenarnya untuk menyisir jalan. Setidaknya ini upaya dari kami supaya tidak ada orang yang tidak tahu” katanya.

Selain itu, menurut Arief, pembuatan iklan OOH ini pun dilatarbelakangi gelombang arus mudik yang akan datang.

“Gelombang mudik itu sudah mau datang dan jumlahnya bisa jutaan orang. Sebenarnya itu yang sangat potensial kalau kami pasang iklan OOH. Hampir semua yang mudik ini ekonominya average, yang mungkin punya handphone tapi tidak terlalu memanfaatkan untuk cari informasi sehingga mereka perlu diingatkan lewat iklan OOH. Ada satu iklan OOH kami yang mengingatkan untuk tidak mudik, kalau mudik bisa aja bukan membawa keberkahan malah mungkin membawa bencana,” terangnya.

Menurut Arief, baru dua iklan OOH yang dipasang hingga Selasa (7/4), yakni di Ring Road Kejayan dan Stasion Kridosono. Pihaknya memiliki 15 hingga 20 desain iklan OOH yang akan ditempatkan di 10 hingga lima belas titik.

“Kami baru persiapan produksi dan sebagainya. Itu baru kemarin, belum lama. Ini masih progress. Ada lima lagi yang sedang progress, terdisi dari bahasa Jawa Indonesia,” sambungnya.

Lebih lanjut, pihaknya dan pihak P3I Pusat akan membuat iklan OOH di kota-kota lain di Indonesia. Sejauh ini, kini baru P3I di Yogyakarta dan Jawa Timur yang membuat iklan OOH.

Senada dengan Arief, Ketua P3I Jawa Timur Agus Winoto pun mengakui bahwa masih banyak orang yang berkeliaran di luar rumah.

“Mereka tidak menuruti imbauan pemerintah untuk stay at home. Ternyata masih banyak yang berkeliaran,” pungkasnya saat dihubungi, Rabu (8/4).

Di Surabaya, P3I Jawa Timur pun membuat iklan OOH untuk mengingatkan kepada masyarakat akan bahayanya virus Corona. Namun, kata Agus, ada masyarakat yang sama sekali tidak paham, bahkan menganggap hidup mati itu terserah sama Tuhan.

“Itu betul, tapi mereka sama sekali tidak waspada. Ini yang kami khawatirkan. Makanya kami membuat iklan layanan masyarakat berupa OOH yang pesannya untuk stay at home,” lanjutnya.

Menurut Agus, iklan OOH akan lebih mengena bila isi pesan menggunakan gaya yang sesuai dengan karakteristik penduduk.

“Pesannya sesuai dengan karakteristik orang Jawa Timur dan Surabaya. Itu kami sudah sepakat dengan P3I se-Indonesia, kami buatnya seperti itu. Misalnya, ‘Kate lapo? Kluyuran ae rek. Dipangan Corona, matek koen. Ndang moleh!’ artinya ‘Ngapain? Kluyuran melulu. Dimakan Corona, mati kau. Sana pulang!’. Anak Surabaya itu seneng,” katanya.

Agus mengaku kaget ketika iklan OOH itu viral di media sosial. “Artinya, banyak yang merasa terwakili. Mungkin nanti next step bakal buat juga bahasa Indonesia untuk umum. Yang jelas, di Malang pun sudah ada, yang berbahasa Madura pun ada,” terangnya.

Ia pun mengaku perihatin dan khawatir atas dampak yang disebabkan pandemi ini. Terlebih terhadap masyarakat di lapisan bawah.

“Mereka betul-betul merasakan dampaknya, di antaranya pekerja kantor yang di-PHK dan pedagang kecil yang dagangannya tak begitu laku. Kita, khususnya mereka, mau keluar takut, bahaya karena Corona. Kalau ga keluar ya gak ‘dapat’ makan. Makanya, kita mesti bantu sebisanya,” ujar Agus.

Ketika pandemi berakhir, kemungkinan masyarakat sudah tak punya apa-apa untuk memulai sesuatu. Pasalnya, begitu memutuskan untuk tetap tinggal di rumah, pengeluaran bertambah.

“Lalu, keuangan negara terbatas. Kemudian banyak orang di luar yang ga julan lagi. Efeknya banyak barang lebih mahal. Penderitaan ini dirasakan lapisan bawah secara langsung. Kalau ini berlangsung sampai Juli—misalnya, jelas keuangan habis,” kata Agus.

“Kita butuh waktu panjang untuk recovery. Nah, mari kita saling membantu dan sebisa kita. Orang sudah pasrah. Di luar mati—mungkin bisa makan dikit, di rumah mati karena ga bisa makan. Makan kan ga bisa ditunda. Yang lain susah nolong, karena sulit juga. Kita mestinya menjaga agar jangan sampe gejolak sosial itu terjadi,” tandasnya.

Oleh karenanya, lanjut Agus, pihak P3I membuat iklan OOH sebagai bentuk penyadaran dan solidaritas antarsesama. Kendati begitu, ia pun mengaku upaya ini tidak cukup untuk menanggulangi permasalahan pandemi ini, karena masyarakat begitu banyak dan beragam.

Adapun iklan OOH ini sudah dipasang di beberapa jalan utama, seperti di Kertajaya, Pasar Kembang, Embong Malang, dan Wonokromo. (LH)

About author

Related Articles