ADdiction

Perusahaan Iklan Blok ‘Virus Corona’

Addiction.id-Jakarta. Pengiklan kian menjauhi konten online yang berkaitan dengan virus Corona. Hal itu menjadi masalah bagi penerbit berita digital yang membuat artikel tentang pandemi.

Perusahaan dapat menggunakan cara canggih untuk membatasi di mana iklan mereka dapat muncul online. Dengan begitu, perusahaan bisa menghindari topik atau kata kunci tertentu yang tidak ingin mereka kaitkan. Belakangan ini, mereka menargetkan berita virus Corona.

Menurut perusahaan keamanan brand Integral Ad Science Inc, sebagian besar brand memblokir kata kumci “virus Corona”, setelah “Trump”, dikutip dari wsj.com pada 1 April 2020. Pemblokiran kata kunci ini untuk mempersulit penerbit menjual iklan, sebab banyak perusahaan menarik iklan demi memangkas biaya selama krisis.

“Tidak diragukan lagi: Ada banyak anggaran iklan yang baru saja dihentikan. Itu hanya menambah geram bagi penerbit,” ujar Kepala Kantor Operasi di salah satu penerbit berita.

Hal semacam ini sebetulnya bukan hal baru bagi penerbit. Ia melanjutkan, beberapa pengiklan pun menghindari konten gaya hidup yang mungkin menyebutkan wabah, seperti artikel yang menampilkan resep untuk dimasak saat di karantina.

“Banyaknya konten virus Corona yang diblok merupakan konsekuensi karena orientasi pada layanan: ‘Inilah yang perlu Anda ketahui hari ini. Tidak ada masalah kesesuaian brand jika selain itu,” kata Ryan Pauley, Kepala Kantor Pendapatan Vox Media Inc.

Berdasarkan hasil pengumpulan data Staq Inc terhadap 40 publikasi digital, harga pada 23 Maret untuk iklan online otomatis rata-rata 36% lebih rendah daripada pada tanggal yang sama tahun sebelumnya. Kemerosotan harga telah ‘memukul‘ berita paling sulit: tayangan iklan pada konten berita turun 41%.

Sebagian besar pembelian iklan online terjadi melalui pasar otomatis. Biasanya, perusahaan membeli iklan yang ditujukan untuk khalayak dengan karakteristik tertentu—seperti usia, kebiasaan belanja, atau minat, misalnya. Mereka dapat menyewa perusahaan pengukuran atau “keamanan brand” untuk melacak kampanye mereka dan membuat daftar hitam iklan mereka, sehingga tidak muncul di lokasi tertentu.

Daftar hitam semacam itu telah berkembang lebih jauh dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan sebelum pecahnya virus Corona, banyak pengiklan yang menghindari artikel tentang politik atau Presiden Trump, yang memengaruhi hampir semua penerbit, dari gerai kecil hingga pemain besar seperti CNN.com, Washington Post, dan The Wall Street Journal.

Menurut ahli, pada pertengahan Maret, ketika krisis virus Corona menjadi akut, perusahaan pengukuran iklan milik Oracle Corp, Moat Inc., menganggap lebih dari 50% tayangan iklan desktop dan mobile di seluruh properti Dow Jones & Co., termasuk Journal dan Barron, tidak aman untuk brand. Angka itu menunjukkan dua kali lipat terkait tayangan yang dianggap tidak aman di Februari.

Pengiklan menggunakan data keamanan brand Moat untuk membuat keputusan pembelian iklan, kendati banyak orang yang berpendapat bahwa pendapatan yang tepat untuk gerai yang dimiliki Dow Jones tidak jelas.

“Kami memahami bahwa ada kepekaan di sekitar tempat iklan muncul—dan ini telah meningkat selama krisis. Fokus kami adalah mengembangkan alat untuk memastikan bahwa iklan diletakkan di tempat yang paling cocok. Kami bekerja sama dengan pelanggan dan vendor teknologi iklan kami untuk menemukan solusi yang lebih baik untuk periklanan, ”ujar Josh Stinchcomb, Kepala Kantor Pendapatan di Dow Jones. Dow Jones, penerbit The Wall Street Journal, adalah unit dari News Corp.

Menurut perusahaan pelacakan iklan Pathmatics Inc, ketika perusahaan keamanan brand Integral Ad Science menganggap slot iklan tidak aman untuk brand yang membelinya, ia mengisi slot dengan iklan untuk layanannya sendiri. Iklan-iklan kemudian menjadi umum dua kali lipat pada minggu lalu.

Penerbit dan perusahaan yang berspesialisasi dalam keamanan brand mendorong brand untuk mengendurkan tindakan pemblokiran mereka.

Kepala Kantor Operasi Matt McLaughlin, dari perusahaan keamanan merek DoubleVerify Inc., mengatakan bahwa pengiklan tidak boleh memblokir iklan mereka dari konten dengan istilah terkait virus ketika kata-kata ini muncul di sumber berita yang dapat dipercaya.

Saat pengiklan mainstream mundur dari berita virus, beberapa slot iklan tersebut dijual melalui pasar otomatis ke perusahaan, bahkan dipertanyakan. Iklan untuk “obat ajaib” telah muncul bersama jurnalisme tentang wabah.

“Masker Respirator N95 Kami Menyaring Semua Hal Buruk,” tulis salah satu iklan dari Best Dang Stuff, menampilkan gambar-gambar masker kain. Menurut Pathmatics, iklan ini muncul di situs berita termasuk Yahoo pada Maret. Namun, Best Dang Stuff tidak menanggapi permintaan komentar.

Ivan Markman, Kepala Kantor Bisnus dari Induk Yahoo Verizon Media, mengatakan Yahoo mendukung inisiatif industri mendorong brand untuk mendukung konten berita tepercaya. Verizon Media adalah anak perusahaan dari Verizon Communications Inc.

DoubleVerify mengatakan telah mulai mengisi slot iklan yang dinilai tidak aman itu dengan pengumuman layanan publik tentang virus Corona.

Perusahaan teknologi iklan Amobee Inc. membeli slot iklan di berita dan mengisinya. Pihaknya membuat pengumuman yang dibuat oleh Organisasi Kesehatan Dunia dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.

“Jika kita akan memiliki banyak inventaris yang tidak digunakan, mungkin kita dapat menggunakannya untuk kebaikan sosial,” ujar Philip Smolin, Kepala Strategi dan Petugas Pendapatan Amobee. (LH)

About author

Related Articles