ADdiction

Periklanan dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Oleh: Arindra Karamoy*

Addiction.id-Jakarta. Tahun 2021 telah diputuskan oleh PBB untuk menjadi “International Year of Creative Economy for Sustainable Development. Dikutip dari situs Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Indonesia telah memrakarsai resolusi atau keputusan PBB mengenai ekonomi kreatif pada Sidang Majelis Umum (SMU) PBB, yang disahkan secara konsensus tanggal 14 November 2019 di New York. Resolusi berjudul “International Year of Creative Economy for Sustainable Development, 2021”, menekankan peran krusial sektor ekonomi kreatif dalam mendorong pembangunan berkelanjutan. Periklanan termasuk dalam sub sektor ekonomi kreatif di Indonesia. Lalu, bagaimana peran dan persiapan industri periklanan Indonesia menyambut resolusi tersebut?

Tumbuhkan Kesadaran

Hubungan antara industri periklanan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs) sudah terjalin beberapa waktu lalu. Pada bulan Juni 2016 diluncurkan inisiatif ‘Common Ground’ untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan oleh Ban Ki-moon, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa dan enam perusahaan pemasaran dan periklanan terkemuka dunia, yaitu Dentsu, Havas, IPG, Omnicom group, Publicis Group dan WPP. Industri pemasaran dan periklanan dapat mengambil peran yang jauh lebih aktif dalam mempromosikan transisi ke masa depan yang lebih berkelanjutan.

Bahkan enam grup besar biro iklan dunia ditambah satu biro iklan independen sempat membuat sebuah workshop untuk memberikan awareness kepada Gen Z tentang Sustainable Development Goals. Dari workshop ini nantinya akan lahir output yang akan dijadikan sebagai communications tool dan YouTube digunakan sebagai media tayangnya.

Dari workshop tersebut tentunya dengan materi video di YouTube saja tidak menyelesaikan semua masalah promosi dan komunikasi isu SDGs ini. Masih banyak sekali aktivitas promosi dan komunikasi yang perlu dilakukan oleh setiap negara yang sudah menyatakan komitmen menjalankan 17 isu dalam tujuan pembangunan berkelanjutan di tahun 2030. Workshop seperti di atas dapat dijadikan inspirasi di sini. Paling tidak untuk menumbuhkan kesadaran para pemangku kepentingan dalam industri periklanan tentang SDGs. Sehingga nantinya dapat muncul karya-karya yang benar-benar memberikan pencerahan bagi masyarakat luas tentang pentingnya isu-isu SDGs. Penting dipikirkan untuk melakukan campaign yang berkelanjutan dan tidak kehabisan nafas. 2030 masih jauh? Sama sekali tidak. 10 tahun adalah waktu yang singkat.

Komitmen Untuk SDGs

Seperti kita tahu bahwa isu-isu SDGs adalah isu yang terjadi di banyak negara di dunia ini. Isu-isu yang tidak ringan seperti pengentasan kemiskinan, masalah air bersih, akses kesehatan yang layak, isu gender dan lain sebagainya.

Isu ‘berat’ tersebut belum tentu akan dengan mudah dipahami. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang lebih ‘populer’, tanpa mengecilkan substansi dari isu-isu berat tersebut dan juga pemilihan media sebagai contact point yang tepat. Dengan pendekatan ‘kreatif’ dan populer harapannya lebih banyak lagi target audience akan aware dengan isu-isu SDGs dan pada akhirnya tergerak untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan tersebut sehingga dapat tercapai di tahun 2030.

Namun sebelum kita sampai pada imajinasi kreatif dalam sesi brainstorming mencari ide untuk kampanye isu-isu SDGs, mari kita tengok dulu seberapa jauh industri periklanan peduli dan sungguh-sungguh memiliki komitmen. Ada tiga prinsip dalam pembangunan berkelanjutan: prinsip ekonomi (profit), sosial (people) dan lingkungan (planet). Ketiganya harus selalu menjadi acuan dalam melakukan aktivitas bisnis, baik individu, UMKM, perusahaan maupun badan usaha negara. Kegiatan bisnis tidak lagi hanya memikirkan profit tapi juga harus menimbang aspek sosial dan lingkungan. Ketiganya tidak bisa dilepas masing-masing jika ingin mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Bagaimana dengan agensi periklanan? Sudah sejauh mana mereka menjalankan tiga prinsip ini?

Dalam tulisan pendek ini, saya tidak tahu jawaban pastinya. Karena perlu pendalaman lebih lanjut untuk menjawab pertanyaan tersebut. Jika ditanya bagaimana komitmen industri periklanan akan SDGs, tentu akan dijawab: berkomitmen. Yang perlu ditunggu adalah sejauh apa komitmen tersebut. Tidak cukup hanya sekadar membuat iklan pro bono untuk organisasi masyarakat sipil dan lembaga swadaya masyarakat dengan tujuan menang award. Yang lebih penting adalah bagaimana secara internal bisnis periklanan sendiri dapat berperan dalam menjaga planet dan memberdayakan people namun tetap dapat profit.

*Mantan Anak Iklan, Sekarang Pengajar di Universitas Multimedia Nusantara dan Mahasiswa Doktoral Sustainable Development Universitas Trisakti

About author

Related Articles