ADdiction

Pengiklan Mesti Adaptif di Saat Pandemi

Addiciton.id-Jakarta. Industri periklanan harus beradaptasi ketika dunia tengah dilanda krisis ekonomi akibat pandemi virus corona (SARS-CoV-2). Banyak pengiklan yang memangkas pengeluarannya untuk iklan. Rencana setahun mereka pun terhambat. Mau tak mau mereka merumuskan ulang rencana ke depannya. 

Di Amerika Serikat (AS), saat ekonomi terhenti di tengah pandemi, pengiklan mesti bermanuver dengan hati-hati. Tak heran bila terdapat pembatalan kampanye, serta menggarap iklan dengan mengikuti imbauan jarak sosial.

“Penunjuk arah yang digunakan untuk merencanakan iklan jadi berputar. Permainan telah benar-benar berubah. Pada dasarnya, orang membutuhkan hal-hal yang sangat berbeda,” terang Sascha Lock, Wakil Presiden Media di agensi AMP di Boston, dikutip dari bostonglobe, Kamis (07/05).

Iklan yang diproduksi harus relevan dengan situasi pemirsa yang tengah mengkhawatirkan virus. Pun iklan mesti mengingatkan pemirsa bahwa ada  merek yang tidak melupakan situasinya, kendati iklan biasanya mempromosikan suatu merek.

“Saat ini, pesan yang tidak relevan lebih beresiko dari sebelumnya. Dan pesan yang mengenai situasi terkini itu  berdampak lebih besar dari sebelumnya. Orang-orang percaya COVID-19 akan secara permanen mengubah hidup mereka dan cara merek berbisnis. Dan mengharapkan merek memberi harapan dan meyakinkan,” ungkap George Sargent, CEO Arnold Worldwide dan Presiden Havas Media Boston.

Namun, menurut seorang profesor pemasaran di Northeastern University Bruce Clark, ada begitu banyak ketidakpastian di dunia saat ini sehingga sulit untuk menyampaikan pesan iklan.

Ia mengatakan pandemi ini, seperti yang ditunjukkan oleh banyak iklan, belum pernah terjadi sebelumnya. Perusahaan sekarang harus memperhitungkan banyak hal. Seperti, apakah akan menggelontorkan uang seluruhnya untuk kampanye. Namun, banyak konsumen menunda belanja. Di sisi lain, jika pengiklan mundur, apakah mereka akan menyerah kepada pesaing?

“Resesi sebelumnya didorong oleh permintaan, dan pelanggan yang berhenti belanja. Di sini kita buta soal kepastian ekonomi. Tak ada gunanya mengharapkan ‘beli sekarang’ jika perusahaan tidak bisa menjual,” tandas Clark. 

Beberapa perusahaan telah beradaptasi. Misalnya, IBM telah menggembar-gemborkan bagaimana teknologi Watson melayani penjual menangani pesanan online dan streaming video dengan keluarga melalui aplikasi Zoom. Lalu Domino fokus pada keamanan, dengan pengiriman tanpa sentuhan. Bahkan Match telah mempromosikan kencan jarak jauh.

Banyak klien yang berputar otak untuk membuat iklan bisnis mereka. Mereka pun menyadari pentingnya pemasaran selama pandemi, terutama mengingat betapa mudahnya loyalitas konsumen dapat dimenangkan atau hilang pada saat ini.

“Merek sedang memikirkan kenyataan bahwa pelanggan yang hilang hari ini berpotensi menjadi pelanggan yang hilang selamanya,” kata Fredrickson dari agensi MullenLowe.

Perusahaan harus lebih cepat berinovasi karena kebutuhan. Fredrickson mengatakan, kemungkinan banyak pengecer yang melakukan, misalnya, sembilan bulan pengujian pasar–mungkin dengan pilot di satu atau dua toko, sebelum meluncurkan perubahan dramatis. Selama pandemi, perubahan seperti ini  terjadi dalam semalam.

“Bereksperimen tidak akan pernah kembali seperti semula bagi mereka. Itu perubahan mendasar,” pungkas Fredrickson. (LH)

About author

Related Articles