ADdiction

Pengabaian Aturan Iklan SKM Jadi Tren di 2020

Addiction.id-Jakarta. Di 2020 ini, terjadi peningkatan tren iklan susu kental manis (SKM) yang tak memenuhi aturan. Hal ini sebagaimana hasil temuan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

“Kalau dilihat dari hasil pengawasan kami di industri Susu Kental Manis itu, hasil pengawasan secara penerapan produksi pangan olahan, secara umum hasilnya baik. Namun, memang pengawasan label hasilnya masih perlu ditingkatkan,” jelas Sondang Widya Estikasari, Plt Direktur Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang BPOM, baru-baru ini.

Sondang mengatakan bahwa para pelaku usaha SKM berdalih ada grace period saat mereka menjalankan Peraturan Kepala (Perka) BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. 

“Tapi saya selalu katakan ke mereka bahwa meski ada grace period-nya, khusus untuk label SKM, sebagai bagian dari tanggung jawab produsen untuk mengedukasi masyarakat maka diharapkan dapat dipercepat. Dan itu ditanggapi positif oleh pelaku usaha SKM,” sambung dia.

Ia pun mengakui bahwa pihaknya punya permasalahan terkait iklan. “Kami melihat memang terutama di tahun 2020 ini, terjadi peningkatan tren iklan tak memenuhi ketentuan dari SKM,” tuturnya.

Menanggapi maraknya pengabaian aturan itu, Sondang mengatakan, BPOM telah memberi sanksi kepada para pelaku usaha SKM yang tak sensitif dan tak patuhi aturan.

Lebih lanjut, ia berterima kasih atas laporan yang memberi tahu pihaknya soal keberadaan iklan-iklan SKM yang ternyata diselipkan di sinetron. “Kami sudah surati KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) untuk dapat membantu mendorong mengingatkan televisi yang menyiarkannya,” imbuh Sodang.

Di lain sisi, BPOM pun juga mendapati sejumlah pelanggaran iklan SKM. Misalnya, iklan mengklaim bahwa SKM  seperti susu segar atau bisa disajikan sebagai hidangan tunggal.

“Kami pastikan terhadap pelanggaran ini, kami telah memberikan peringatan keras dan kami telah lakukan pemanggilan kepada pelaku usahanya, dan mereka sudah memperbaikinya. Iklan tersebut pun harus langsung diturunkan pada saat yang bersangkutan menerima surat peringatan dari kami. Jadi itu langsung tegas, tidak menunggu lagi,” tandas Sondang.

Menurut Sondang, BPOM memang wajib menurunkan segera iklan di mana pun jika tak memenuhi ketentuan.

Kental Manis Bukanlah Susu

Sementara itu, Public Policy Observer Sofie Wasiat mengatakan dirinya masih menemukan iklan SKM di e-commerce yang masih melabelinya sebagai Susu Kental Manis. Padahal sejak 2018 melalui Perka BPOM No. 31, kata ‘susu’ dari Susu Kental Manis dihilangkan dan menjadi Kental Manis.

“Yang mengejutkan lagi, setelah saya telusuri ternyata yang menjual itu tidak hanya dari seller perorangan tapi dari official store dari salah satu brand produsen SKM tersebut,” kata Sofie.

Selanjutnya, foto yang dipasang pada iklan memang foto produk, di mana tak ada kata ‘susu’ di produknya. Hal ini sesuai peraturan perundang-undangan SKM.

“Namun, di situ masih ditulis judul dan deskripsi produk dengan huruf besar-besar ‘Susu Kental Manis’. Artinya, masih ada produsen yang kurang suportif terhadap program pemerintah untuk memperbaiki gizi anak-anak di negeri ini,” pungkas Sofie.

(LH)

About author

Related Articles