ADdiction

Obituari: Kiprah Febriyanto di Industri Periklanan

Addiction.id-Jakarta. Industri Periklanan tanah air baru saja kehilangan salah seorang keluarganya. CEO dari agensi IndoneSia BanGga (ISBG), Febriyanto, telah berpulang akibat serangan jantung pada Rabu, 17 Juni 2020. Ia telah dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Semasa hidupnya, pria yang disapa Bri itu dikenal berpikiran maju. Hal itu sebagaimana diungkapkan oleh Chief Creative Officer ISBG Ismail Fahmi atau yang dikenal dengan panggila Ismet, yang menilai gagasan Bri mendahului zaman.

“Meski tidak semua berjalan mulus dan hidup terus, tapi semangat Bri untuk mencoba hal-hal baru sungguh luar biasa dan banyak menghasilkan pionir-pionir di bidangnya,” lanjutnya, ketika dihubungi Addiction, Rabu (23/6). 

Di awal 2000-an, Bri dan ISBG mencoba menggunakan produk digital seperti Soundbuzz dan Contest Only.

“Saya pikir, ISBG menjadi salah satu agensi iklan pertama yang mencoba produk tersebut,” ucap Ismet.

Ia mengaku tak heran bila MTV, dengan slogan dan logo anak nongkrong, menjadi kliennya di masa itu. Demikian pula Prambors.

Diketahui, ISBG didirikan pada 1997. Sembari menjalankan ISBG, Bri pun bersama Ismet dan beberapa teman lainnya sempat membangun Yayasan PopCorner pada 2003. Yayasan ini membantu Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) membuat Film Pendek.

Melompat jauh ke 2017, sambil menjalankan ISBG juga, Bri bersama Ramya Prajna dan Anantya menjadi rekan bisnis. Mereka membangun ThinkWeb, sebuah agensi digital—di mana masyarakat sudah mulai menggandrungi digital.

“Ada muncul beberapa partner lain terlibat. Setelah Think.Web, kemudian lahir sister company lainnya seperti Wooz.in, Talk Link, inmotion, digify, yucoba.in, Trys dan terakhir Happiness. Termasuk membuat Pranala sebagai holding untuk semua perusahaan tersebut,” jelas pria yang disapa Rama ini, saat dihubungi, Kamis (24/6).

Gagasan Bri yang lain pun digemakan sejak tiga tahun belakangan. ISBG kini menjadikan “Kelokalan adalah Kekuatan” sebagai slogannya.

Dengan slogan ini, Bri dan perusahaan berfokus membangun brand lokal dan UMKM untuk tumbuh besar bersama-sama dengan ISBG.

“Karena membangun brand lokal berarti juga membangun Indonesia dan rakyatnya,” jelas Ismet.

Selama berkiprah di agensi periklanan hingga akhir hayatnya, diungkapkan oleh sang istri, Gita Abimanju—saat dihubungi (26/6), Bri telah membantu MTV, rejuvenate Hartono Elektronik dengan membuat ikon CakTon, Setiabudi Residence, Hokben, Kota Baru Parahyangan, Bausch & Lomb, media buying Oxone, Air Asia saat awal masuk Indonesia, Filma, Palmboom Palmvita, Danone, Sompo, Honey Well, Heavenly Blush, Kemendikbud, Kemenko PMK, dan lain-lain.

Dikutip dari situs resminya oleh Addiction pada Sabtu, 27 Juni 2020, ISBG berkembang secara bertahap per lima tahun sebagai berikut.

ISBG 5.1 (1997-2002) ISBG dikenal sebagai agensi anak muda dengan MTV dan Prambors-nya.

ISBG 5.2 (2002-2007) mulai menjalankan fungsi komunikasi terpadu dengan melakukan event dan media placement, mendapat kepercayaan berbagai klien lokal dan regional serta menginisiasi program peduli lingkungan: greenGo

ISBG 5.3 (2007-2012) ikut mendirikan Rumah Produksi: dbb dan bersama staf digitalnya bermitra mendirikan digital Agency; ThinkWeb.

ISBG 5.4 (2012-2017) mendukung terbentuknya Yayasan kegiatan sosial bernama ABBR (Ayo Berbuat Baik) dan kelompok kreatif: Indonesiana.

ISBG 5.5 (2018 dan seterusnya) ISBG akan terus mendukung produk dan kliennya berubah dan berhasil mewujudkan peradaban baru melalui komunikasi terpadu.

(LH)

About author

Related Articles