ADdiction

Obituari: Febriyanto dan Gagasannya di Mata Kerabat Hingga Partner Bisnis

Addiction.id-Jakarta. Kabar duka datang dari industri periklanan. CEO IndoneSia BanGga (ISBG), Febriyanto, telah berpulang pada Rabu, 17 Juni 2020 dan telah dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Menurut keterangan istrinya, Gita Abimanju, pria berusia 51 tahun itu sempat terkena serangan jantung sebelum meninggal.

Gita menjelaskan bahwa suaminya memang memiliki riwayat penyakit jantung sejak sepuluh tahun lalu. Saat diperiksa, ditemukan penyumbatan di kiri dan kanan jantung, sehingga Briyan mesti menggunakan ring di jantungnya.

“Setelah itu Bri rutin periksa sampai pada hari berpulang,” sambungnya, saat dihubungi Addiction, Jumat (25/6).

Ia mengenang Briyan sebagai sosok yang sangat positif, yang tidak pernah berhenti mengajak orang untuk berbuat baik.

“Briyan itu pribadi yang baik dalam arti sesungguhnya. Humble, hatinya bersih, semua itu positif, mengayomi, Ayah yang penuh cinta, dan senang berbagi. Dia juga pecinta musik dari berbagai genre,” kenangnya.

Sebagai seorang Ayah, Bri tidak begitu mementingkan nilai sekolah anaknya. “Ia lebih bertanya, sudah berbuat baik apa hari ini?” ungkap Gita.

Ia melanjutkan, Bri lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri.

“Bahagianya dia ketika dia bisa membuat dan membantu mewujudkan mimpi orang-orang di sekitar. Dia mendorong team menjadi pengusaha. Dia guru yang baik dengan segala kelebihan dan kekurangannya,” lanjut Gita.

Perihal pekerjaan, katanya, Bri selalu menekankan bekerja dengan hati, selalu bicara People Pray Planet.

Sementara itu, Chief Creative Officer ISBG Ismail Fahmi yang akrab dipanggil Ismet mengenang Briyan sebagai orang yang konsisten dan sangat spiritual, baik dalam bekerja maupun kegiatan-kegiatan di luar pekerjaannya.

“Concern dia yang terbesar ya tentang koneksi antar manusia, bumi yang lebih baik, dan restu dari semesta alam. Semangat ini yang dia bawa ke mana-mana, termasuk ke dalam kerja-kerja di periklanan. Ada saja usulan beliau yang mungkin aneh buat klien, tapi kalau diperhatikan, yang dia usulkan adalah bagaimana brand bisa turut serta memajukan peradaban, membantu menjaga bumi,” ujar pria yang telah berkawan dengan Briyan sejak perkuliahan ini, saat dihubungi pada Selasa (23/6).

Ismet menyadari betul bahwa temannya ini selalu tertarik dan peduli terhadap persoalan kemanusiaan. Oleh karenanya, lanjut dia, Bri membuat program Ayo Berbuat Baik Rame-Rame (ABBR) di lingkungan ISBG—meliputi membagikan bibit kopi sampai santunan anak yatim.

Kemudian, lanjutnya, di tiga tahun belakangan ini, ISBG memfokuskan untuk mengembangkan brand lokal dan UMKM dengan slogannya, “Kelokalan adalah kekuatan.”

“Sebagai orang iklan, gue pikir banyak hal yang dilakukan Bri mendahului zamannya. Tidak semua berjalan mulus dan hidup terus, tapi semangat Bri untuk mencoba hal-hal baru sungguh luar biasa dan banyak menghasilkan pionir-pionir di bidangnya,” lanjutnya.

“Banyak banget hal berkesan dengan Bri. Banyak banget dia membantu membukakan jalan buat gue. Dia juga suami dan bapak yang sangat baik. Gue banyak belajar dari melihat kedekatan dia dengan anak-anaknya. He’s the giant, I’m merely standing on his shoulders. And for that, I’m grateful,” ungkap Ismet.

Di mata partner bisnisnya, co-Founder & co-CEO of Think.Web Ramya Prajna, Bri disebut sebagai pemantik ide yang jauh ke depan, penjejak ide yang mengawang. Ia mengakui, apa yang dibicarakan Bri kadang kala sulit dipahami karena ia dan pihaknya belum berpikir sejauh Bri.

“Namun, ia juga sering kali menjaga kami tetap dalam kesadaran,” imbuhnya, Rabu (24/6).

“Mas Bri mengajarkan saya sebagai partner dan kawan mengenai berbisnis dengan hati. Mas Bri tempat saya belajar, walaupun belakangan dia juga sering bilang “gantian belajar”,” lanjutnya.

Selain itu, pria yang biasa dipanggil Rama ini pun mengenang bagaimana ia mendapat kesempatan karena Bri.

“Beliau adalah orang yang memberikan kesempatan kepada saya untuk melakukan lompatan (saya percaya beliau juga sedang melakukan lompatan). Kesempatan untuk memulai bisnis untuk saya yang tidak punya latar belakang bisnis adalah hal yang luar biasa,” katanya.

Lebih lanjut, Rama menarik pesan dari sikap Bri dalam bekerja di periklanan.

“Berbuat baik, berbisnis dengan hati, ‘eling lan waspada’, tetap sadar, terus waras, dan lainnya adalah nilai, prinsip, sikap dan pesan dari beliau. Salah satu yang saya ingat adalah “Hidup itu bukan buat sampah”, yang saya pahami sebagai “bukan untuk sampah (hal buruk)”, “bukan hanya untuk membuat sampah”, “sampah yang dihasilkan juga perlu memberi manfaat”. Jadi beliau selalu mendorong untuk bangga  dan menjaga Indonesia dengan cara terus berkarya dan selalu memberi manfaat untuk seluruh semesta, bumi dan seluruh isinya,” jelasnya.

(LH)

About author

Related Articles