ADdiction

Nasib Industri Periklanan di Indonesia Selama Pandemi Virus Corona

Addiction.id-Jakarta. Industri periklanan di Indonesia terkena dampak pandemi virus Corona (SARS-CoV-2). Proses produksi iklan di masa ini terpaksa berubah. Misalnya, sebagian produksi iklan dilakukan secara digital.

Pasalnya perusahaan periklanan mencanangkan sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi para karyawannya. Tak heran bila output digital meningkat di masa ini. Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan (P3I) Jakarta, Elwin Mok.

“Beberapa agensi tampak sudah melakukan itu (beralih ke digital). Keterbatasan ini jelas menjadi tantangan tersendiri bagi agensi, untuk bisa menampilkan komunikasi yang tetap menarik dengan tantangan yang ada,” ucap Elwin, saat menjawab pertanyaan  Addiction, Senin (20/04).

Sementara untuk yang nondigital, lanjut dia, agensi harus memutar otak untuk bisa memproduksi iklan lewat proses WFH.

Elwin menuturkan, industri periklanan saat ini sangat mengkhawatirkan. Ia mengakui baik pihak agensi maupun produsen, didera banyak hambatan. Seperti yang diketahui, lanjutnya, industri periklanan memang berkaitan erat dengan industri lain dan kondisi pasar.

“Apabila industri yang memasarkan produk ke konsumen mengurangi pasokan produknya, otomatis industri periklanan akan terdampak langsung,” lanjutnya. 

Ia menambahkan bahwa seluruh industri bisa dibilang sedang dalam survival mode, mereka berupaya untuk dapat terus bertahan.

Menurut Elwin, hal yang menjadi hambatan utama di masa sekarang yakni sulitnya distribusi dan sulitnya konsumen untuk membeli produk. Hal ini berujung pada penurunan daya beli dan perubahan prioritas belanja konsumen.

Kendati begitu, ia tak memungkiri adanya kategori produk yang tingkat konsumsinya meningkat, seperti jasa layanan internet, e-commerce, media sosial dan konten digital.

“Produk-produk seperti ini idealnya bisa terus melakukan komunikasi brand agar bisa memperkuat kepemimpinan pasarnya. Di saat ketika komunikasi kompetitor relatif sepi, ini justru menjadi kesempatan besar menanamkan persepsi brand di benak konsumen. Info yang sempat saya dapatkan, tingkat pemirsa televisi juga meningkat,” imbuhnya.

Namun, ada beberapa kategori brand atau produk yang memang perlu menahan diri untuk promosi. Alasannya, kata Elwin, situasi memang tidak memungkinkan produk tersebut dinikmati konsumen.

“Bahkan bila pandemi ini sudah berlalu, masih akan perlu waktu untuk kembali normal. Produk-produk yang membutuhkan investasi yang tinggi bagi konsumen mungkin akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk bisa kembali ke kondisi semula,” lanjutnya.

“Kalau saya lihat, ada dua perspektif mengenai kondisi ini. Perspektif pesimis, memprediksi akan terjadi PHK yang sangat massif, yang menyerupai krisis ekonomi 1998. Perspektif optimis, sudah pasti akan terjadi perlambatan ekonomi, namun Indonesia akan cukup cepat pulih kembali. Bandul antara dua perspektif ini sebenarnya sangat tergantung kepada berapa lama kondisi karantina ini akan berlangsung. Sudah pasti kita berharap pada skenario optimis,” ungkap Elwin.

Melalui iklan-iklan yang mengampanyekan seputar pandemi, ia berharap masyarakat memahami  informasi seputar pandemi.

“Dan dalam pantauan saya, sudah banyak pelaku yang sudah melakukan hal ini, baik secara pro-bono maupun berkolaborasi dengan brand atau media,” tutur Elwin.

Lebih lanjut, ia meyakini dunia pasti akan berubah sesudah pandemi ini. “Cara kita memandang dunia, cara kita menilai prioritas kebutuhan dalam hidup akan berubah. Perilaku konsumen akan berubah. Dan tentunya cara brand berkomunikasi juga harus berubah. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang tersendiri bagi industri periklanan,” katanya.

Elwin menegaskan bahwa para pelaku periklanan dibutuhkan untuk meningkatkan perekonomian Indonesia setelah pandemi berakhir.

“Sehingga tingkat konsumsi bisa ditingkatkan agar produksi bisa terus berjalan dan ekonomi bisa cepat bangkit,” tutupnya. (LH)

About author

Related Articles