ADdiction

Lika-Liku Perusahaan Periklanan di Tengah Pandemi Virus Corona

Addiction.id-Jakarta. Pandemi virus Corona (SARS-CoV-2) di Indonesia berimbas pada beragam sektor, termasuk pada  industri periklanan. Banyak perusahaan yang mau-tak mau menerapkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH), menyusul imbauan pemerintah. Sejumlah perusahaan periklanan pun tak terkecuali.

Adapun di antaranya yakni Dentsu Indonesia, Narrada, dan Ambilhati. Perwakilan dari ketiganya mengaku kerap kali bermasalah dengan jaringan internet. Sehingga komunikasi dengan tim dan kinerja pun terganggu.

Hal ini yang disayangkan oleh Benny Perry, Associate Creative Director Dentsu Indonesia. Padahal, kata dia, perusahaan periklanan bergerak di bidang komunikasi.

“Tapi terkadang komunikasi yang menjadi kendala saat meeting lewat video call atau conference call, di mana kami harus berdiskusi dengan lancar. Kalau tidak, semua akan berbicara bersamaan, imbasnya pesan malah tidak terdengar,” tuturnya, saat dihubungi Kamis (16/4). 

Senada dengan Benny, Creative Director Narrada, Nia Nugroho pun mengatakan bahwa lambannya jaringan internet menjadi kendala selama WFH.

“Koneksi internet tidak senyaman di kantor, karena suami dan adik-adik ipar juga WFH jadi harus berbagi bandwith,” ujarnya melalui pesan WhatsApp, Kamis (16/4).

Pendiri Ambilhati, Sandru Emil pun mengatakan hal demikian. Koneksi internet yang berbeda di setiap rumah menjadi kendala. Sebab tidak semua orang bisa punya akses internet cepat. Karenanya, perusahaan ini memberi solusi.

“Ambilhati menyokong tim dengan memberi bantuan berupa data plan internet,” katanya, Jumat (17/4).

Tak hanya perihal internet, mereka masing-masing pun merasa mendapat tantangan baru selama WFH.

Benny mengatakan bahwa pengetahuan tim tentang dunia digital sangat diuji. Pasalnya, di masa ini, brand diminta bergerak lebih banyak di area digital. Sementara dari pendekatan konvensional, pergerakan nyaris berhenti. 

“Namun, peluang semakin terbuka jika kita mampu memahami dan membaca consumer behaviour, serta memaksimalkan teknologi digital saat ini dalam berkomunikasi,” tandasnya.

Sementara Nia mengaku mendapat banyak distraksi selama di rumah. “Memang ada senangnya, ada sedihnya. Senangnya karena bisa sambil jagain anak, sedihnya karena nggak bisa ketemu teman-teman se-tim, trus kalau di rumah distraksinya banyak hal, seperti anak dan urusan rumah tangga,” katanya.

Sandru mengaku sulit mencari tempat yang tenang dan bebas, tanpa gangguan.

“Apalagi mereka yang sudah berkeluarga dan punya anak memiliki tantangan yang berbeda. Buat yang butuh tempat sepi atau sebatas jenuh karena di rumah saja, kami bolehin dateng ke kantor. Tapi dengan syarat ketat, yaitu harus gantian, gak boleh ramean dan dateng tanpa menggunakan mass public transportation, tapi dengan taksi atau Grab Car yang akan disupport kantor,” terangnya.

Kendati kerap digelimangi kendala dan tantangan, sama dengan Nia, Benny dan Sandru pun mengaku mendapat nilai positif dari WFH.

Benny yang introvert mengaku cukup menikmati situasi WFH. “Biasanya waktu habis di perjalanan dari rumah ke kantor, dan sebaliknya. Sekarang lebih banyak waktu untuk berdiskusi dengan tim, mengikuti perkembangan berita, juga waktu istirahat untuk gaming atau olah raga. Selain itu, bonding dengan rumah juga jadi lebih terasa dengan beberes dan merawat rumah,” jelasnya.

Sementara itu, Sandru mengatakan, situasi WFH justru membuat tim lebih kreatif. Sebab situasi ini  memaksa timnya melakukan cara baru yang belum atau tidak pernah dilakukan.

“Hal itu membuka cara dan solusi baru yang nggak kepikiran. Ini justru tantangan yang seru buat orang-orang kreatif. Selain itu, selama WFH, ga ada waktu yang terbuang untuk commuting. Semua orang jadi lebih tepat waktu. Meeting jadi lebih singkat dan efektif,” ungkapnya.

Lebih lanjut, mereka akan kembali bekerja di kantor setelah situasi membaik. Pun ketiganya berharap agar situasi pandemi semakin membaik. (LH)

About author

Related Articles