ADdiction

Lagi, Facebook Tolak Larangan Iklan Politik

Addiction.id-Jakarta. Facebook memutuskan untuk tidak membatasi iklan politik, bahkan platform itu juga tidak akan mengecek iklan yang tayang.

Facebook mengumumkan perubahan kebijakan terbatas untuk iklan politik, termasuk mengizinkan pengguna untuk mematikan alat target iklan tertentu pada Kamis (9/1).  

Dilansir AP, jelang pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) pada November 2020, platform sosial media terbesar ini telah berjanji untuk membatasi iklan yang menyebarkan kebohongan.  

Pada tahun 2016, Facebook terkena masalah terkait penyalahgunaan data pengguna oleh perusahaan konsultan Cambridge Analytica. Kali ini, Facebook dihujani kritik dan dianggap lepas tangan atas kebijakan iklannya.

Sebaliknya, Twitter telah melarang iklan politik pada Oktober, sementara Alphabet Inc Google atau Googl.O menyatakan akan menghentikan pengiklan yang menggunakan data seperti catatan pemilik publik dan afiliasi politik umum. Demikian pula dengan platform media sosial lainnya, seperti Spotify, Pinterest, dan TikTok.

Senator AS Elizabeth Warren, kandidat partai Demokrat di akun Twitter-nya mengutuk Facebook yang dinilai membiarkan politisi berbohong. Dia juga menuding Facebook melakukan monopoli.

Sementara itu, Direktur Manajemen Produk Facebook, Rob Leathern menjelaskan, perusahaan mempertimbangkan untuk membatasi pemasangan iklan seperti yang dilakukan Google. Namun  kemudian memutuskan untuk tidak melakukannya karena data internal menyebutkan, jika iklan yang dijalankan oleh kandidat presiden AS ditargetkan secara luas, dengan penonton lebih dari 250.000 orang.

Leathern dalam pernyataan tertulis di Facebook menyatakan, kebijakan ini berdasarkan pada orang harus mendengar apa yang disampaikan oleh calon pemimpin mereka.

Ia juga menjelaskan, Facebook memperkenalkan perubahan baru yang membuat pengguna dapat memilih untuk berhenti melihat iklan dengan cara mengatur ulang fitur “Custome Audience”. Tak hanya iklan politik, namun semua jenis iklan.

Perubahan tersebut juga tidak akan berpengaruh terhadap target iklan melalui alat Facebook’s Lookalike Audiences, yang digunakan untuk mengunggah data pribadi yang sama untuk mengarahkan iklan kepada pengguna dengan karakteristik mirip dengan yang berada dalam daftar.

Diketahui, pada pemilihan Presiden AS tahun 2016 lalu, Donald Trump membelanjakan iklan terbesar di Facebook dibanding kandidat lainnya. Banyak kalangan menilai, kampanye Trump dengan beriklan di Facebook terbukti efektif.

About author

Related Articles