ADdiction

Kontribusi Gojek Untuk Perekonomian Negara

Addiction.id-Jakarta. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) telah merilis riset yang bertajuk ‘Peran Ekosistem Gojek di Ekonomi Indonesia Sebelum dan Saat Pandemi COVID-19’, Senin (03/08).

Diketahui, sebelum pandemi, riset ini dilakukan di Jabodetabek, Medan, Palembang, Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, Bali, Makassar dengan metode kuantitatif melalui wawancara tatap muka. Sementara, selama pandemi, riset dilakukan melalui survei online di wilayah yang sama.

Hasil riset itu menunjukkan bahwa hadirnya Gojek berdampak positif bagi Indonesia. Tercatat, pada 2019, Gojek berkontribusi ke perekonomian nasional sebesar Rp104,6 triliun. Angka ini meningkat dari tahun kontribusi Gojek sebelumnya pada 2018 yang mencapai Rp55 triliun.

Dengan metode perhitungan PDB, produksi yang terjadi di ekosistem Gojek selama 2019 setara dengan 1% PDB Indonesia.

Kontribusi ekonomi tersebut dihasilkan oleh mitra Gojek dari lima layanan–yaitu GoFood, GoCar, GoSend, GoFood dan GoPay–yang berkontribusi sebesar Rp87,1 triliun, dihitung dari selisih pendapatan mitra sebelum dan sesudah bergabung dengan Gojek pada 2019.

Tak hanya itu, Gojek juga disebut telah memberi dampak multiplier sebesar Rp17,5 triliun pada sektor informal yang ada di luar ekosistemnya. Misalnya, bengkel yang digunakan mitra pengemudi atau atau pedagang pasar, yang menjual bahan baku ke mitra GoFood.

“Sebanyak 86% UMKM di luar ekosistem Gojek seperti bengkel dan pedagang pasar mengalami peningkatan volume transaksi setelah ada Gojek di kotanya. Yang menarik, lebih dari sepertiga UMKM (33%) mengaku bisa membuka cabang usaha baru setelah ada Gojek di kotanya. Ini artinya keberadaan platform digital di sebuah kota bisa membuat roda ekonomi bergerak semakin cepat,” tutur Wakil Kepala LD FEB UI Paksi C.K Walandouw dalam keterangannya.

Sementara itu, Peneliti LD FEB UI Alfindra Primaldhi menyebut bahwa riset ini membuktikan proses digitalisasi memang efektif meredam dampak buruk perlambatan ekonomi.

“Studi yang dilakukan dalam dua rentang waktu berbeda ini (sebelum dan di masa pandemi COVID-19), memperlihatkan bagaimana ekosistem digital serta ragam bantuan dan inovasi yang Gojek tawarkan terus memperluas peluang penghasilan bagi para pengusaha mikro, kecil dan menengah di Indonesia. Di sinilah terlihat Gojek memiliki peran penting dalam menciptakan peluang ekonomi,” jelas dia.

Alfindra pun melanjutkan, teknologi Gojek memudahkan UMKM untuk beralih dari offline ke online. Bahkan 40% UMKM yang disurvei mulai bergabung di GoFood saat pandemi Covid-19 (sejak Maret 2020), dengan rincian 94% UMKM berskala mikro dan 43% adalah bisnis pemula.

“Ini menunjukkan mudahnya GoFood menjadi platform untuk usaha rumahan digital. Keandalan GoFood sebagai platform pilihan ditunjang dengan temuan riset bahwa selama pandemi mitra UMKM merasa terbantu dengan teknologi Gojek (87%), pelatihan dan informasi (77%), serta fasilitas lainnya dari Gojek termasuk program pendorong usaha dan paket sanitasi (75%),” ujarnya.

Hasil riset LD FEB UI juga mengungkapkan, bahwa hadirnya Gojek membuat mitra UMKM bisa beradaptasi di situasi pandemi. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, UMKM yang baru bergabung di Gojek mendapatkan keterampilan baru, yaitu keterampilan berjualan online (77%), pemanfaatan media sosial untuk bisnis (48%), dan kreativitas dalam pemasaran (45%).

Dengan nilai tersebut, sebanyak 90% UMKM optimistis bisa pulih dan tumbuh terus dengan bertahan menjadi mitra Gojek, di mana mayoritas berencana untuk tetap bermitra paling tidak lima tahun ke depan.

(LH)

About author

Related Articles