ADdiction

Kampanye Aisha Weddings dan Kecurigaan Warganet

Addiction.id-Jakarta. Jagat internet belum lama ini dihebohkan oleh kehadiran wedding organizer (WO) yang mengampanyekan nikah muda. Ia adalah Aisha Weddings, yang mengharuskan perempuan untuk menikah di usia 12 hingga 21 tahun.

“Semua wanita muslim ingin bertaqwa dan taat kepada Allah SWT dan suaminya. Untuk berkenan di mata Allah dan suami, Anda harus menikah pada usia 12 – 21 tahun dan tidak lebih,” tulis pernyataan di situs aishaweddings.com, dikutip pada Rabu (10/1).

Kampanye itu ditolak keras oleh sejumlah kalangan, termasuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan organisasi Sahabat Milenial Indonesia (SAMINDO) bahkan telah melaporkan WO tersebut ke pihak kepolisian, Rabu (10/2).

Pegiat SAMINDO Disna Riantina turut melengkapi barang bukti, seperti alamat situs yang sempat terpublikasi, layar tangkap situs aishaweddings.com dan pamflet yang disebar ke rumah warga.

“Pamflet yang disebar itu dibungkus lipatan koran yang dimasukkan plastik di daerah Kebayoran Baru,” ujar Disna.

Diketahui, selain mengampanyekan nikah muda, Aisha Weddings juga memfasilitasi poligami dan nikah siri.

Warganet mencium kejanggalan
Beberapa warganet mendapati kejanggalan terkait adanya Aisha Weddings. Salah satunya Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit and Media Kernels Indonesia. Menurut dia, keberadaan WO tersebut tak jelas, baik secara online maupun offline. Ditambah lagi, lanjutnya, konten di situsnya pun baru muncul belum lama ini.

“Situs onlinenya juga baru diisi kontennya pada 9 Feb (berusia 1 hari), dan sebelumnya terakhir diupdate 2018, itu pun redirect ke situs lain,” kata Ismail melalui akun Twitter-nya @ismailfahmi, Rabu (10/2).

Ismail membeberkan bahwa situs aishaweddings.com telah muncul pada 2018, yang sebelumnya aishaevents.com. Barulah di 9 dan 10 Februari 2021, setelah vacuum sejak 2018, situs tersebut mengunggah konten baru.

“Sptnya web ini baru dibuat, tapi keburu ketahuan,” ujarnya. Ia menilai konten di situs tersebut belum lengkap dan cenderung provokatif, seperti tentang keyakinan poligami untuk anak muda.

Ismail juga mengatakan bahwa WO tersebut terlalu cepat diluncurkan, terbukti dengan tersebarnya spanduk di sejumlah lokasi. Padahal situs resminya belum lengkap. “Saran: Web dilengkapi dulu, yg profesional. Baru spanduk disebar, biar lebih meyakinkan,” kelakarnya.

Adapun perbincangan tentang Aisha Weddings muncul pertama kali di Facebook, lalu di Twitter. Banyak pula warganet yang yakin bahwa WO itu betulan ada dan menuding penggunaan agama untuk kepentingan tertentu. Isu ini pun mendapat perhatian serius. Media arus utama pun banyak yaang memberitakannya, meski isinya terkait pelaporan KPAI.

Melihat dampak kampanye WO itu menghebohkan, Ismail berpendapat bahwa disinformasi yang meresahkan itu dibuat dengan serius. Terbukti, ada spanduk yang disebar di sejumlah titik.

“Jika tujuannya untuk membangun keresahan, misi ini cukup berhasil, karena narasinya berhasil menarik komentar dari berbagai organisasi besar, dan juga diliput media mainstream dan TV,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ismail mengimbau agar masyarakat tak melanjutkan perbincangan mengenai Aisha Weddings. Sebab tak jelas siapa yang membuatnya. Tujuannya pun, bagi dia, bukan sungguh-sungguh beriklan sebagai WO profesional. “

Kita serahkan kepada kepolisian untuk mengungkap pelakunya biar tidak terulang,” ujarnya.

(LH)

About author

Related Articles