ADdiction

Kalap Karena Iklan Diboikot, Facebook Akhirnya Audit

Addiction.id-Jakarta. Setelah dianggap gagal mengatasi penyebaran konten ujaran kebencian dan hoaks, gelombang boikot iklan terus mendera Facebook.

Perusahaan ini kemudian memutuskan melakukan audit. Keputusan ini diambil setelah banyak pengiklan besar seperti Unilever dan Starbucks mengikuti kampanye ‘Stop Hate For Profit’–salah satu aksi boikot iklan Facebook. 

Diperkirakan Unilever menggelontorkan US$42 juta (Rp606 miliar; kurs= Rp14.429,50) untuk beriklan ke media sosial besutan Mark Zuckerberg tersebut. Sementara Starbucks, menghabiskan sekitar US$94,8 juta (Rp1,3 triliun) untuk beriklan di Facebook pada tahun lalu

Sejak perusahaan tersebut menghentikan iklan dari Facebook, saham platform ini  merosot lebih dari 8,3%. Sebab, selama ini komitmen Unilever memasang iklan di Facebook sangat tinggi.

Karenanya, audit akhirnya dilakukan untuk mencegah kerugian lebih besar akibat hilangnya pendapatan dari Facebook Ads. Namun, Facebook menyebut cakupan dan waktu audit masih dalam tahap finalisasi.

Media Rating Council (MRC) menjadi pihak yang akan mengaudit untuk mengevaluasi bagaimana cara melindungi pengiklan agar iklan mereka tidak muncul di tengah konten berbahaya seperti ujaran kebencian dan hoaks.

Lebih lanjut, dilansir dari The Tech Portal, perusahaan-perusahaan memutuskan untuk menghentikan iklan di Facebook karena dianggap lalai dalam nenangani ujaran kebencian dan hoaks.

Dalam beberapa minggu terakhir, Facebook menjadi bulan-bulanan protes terhadap ujaran kebencian di platform tersebut. Adapun ujaran kebencian yang dimaksud terkait isu diskriminasi rasial telah menjadi topik besar di dunia pada bulan ini, termasuk diskriminasi terhadap kelompok LGBT.

Ketidakmampuan Facebook dalam penanganan ujaran kebencian, menimbulkan reaksi keras yang berujung pada boikot iklan.

Selain Unilever dan Starbucks, Ford Motor Co dan Coca Cola pun menyusul. Mereka menarik sementara iklan di seluruh platform media sosial selama setidaknya 30 hari, dikutip dari Channel News Asia.

(LH)

About author

Related Articles