ADdiction

Iklan Tak Pernah Representasikan Orang Papua, Muncul Rasa Terdiskriminasi

Addiction.id-Jakarta. Tak bisa dipungkiri bahwa kasus rasialisme dan diskriminasi terhadap masyarakat Papua masih ada di Indonesia.

Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mengakui bahwa kedua hal itu bisa terjadi tanpa disadari dan bisa mempengaruhi seseorang.

Ia mencontohkan, hal itu juga direpresentasikan melalui iklan.

“Jarang sekali kita melihat orang Papua direpresentasikan dalam iklan-iklan di TV sebagai simbol, perempuan misalnya, sebagai simbol kecantikan,” jelas Yenny saat di diskusi daring, Kamis (25/6).

Di iklan selama ini, kata dia, standar kecantikan orang Indonesia yaitu berkulit putih, berambut lurus, serta berhidung mancung.

Yenny mengatakan, tak heran bila masyarakat Papua merasa terdiskriminasi.

“Secara alam bawah sadar telah menimbulkan perasaan telah terdiskriminasi, menimbulkan perasaan bahwa kami tidak dipandang sebagai sebuah entitas etnis yang eksis,” lanjutnya.

Lebih lanjut, ada pula bentuk diskriminasi atau tindakan rasisme yang vulgar, dengan melontarkan kata-kata berbau rasisme. Seperti yang terjadi pada Agustus 2019 lalu.

“Ini bukan cuman masalah hukum tetapi juga ada masalah kultur, karena bagaimanapun kultur juga akan mewarnai produk hukum yang dihasilkan sebuah negara,” kata Yenny.

Ia menilai rasialisme dan diskriminasi sebagai pekerjaan rumah negara, menimbang adanya ketidakpekaan masyarakat terhadap isu yang bisa menyinggung sejumlah sub etnis di Indonesia.

“Jadi PR besarnya, bagaimana kita membenahi cara berpikir, memperlakukan saudara-saudara kita semua, dan mengikat diri kita dalam satu semangat kebangsaan,” pungkas Yenny.

(LH)

About author

Related Articles