ADdiction

Iklan Melandai, Surya Citra Media Tayang Ulang Programnya

Addiction.id-Jakarta. Perusahaan periklanan memangkas pengeluaran untuk iklan selama pandemi virus corona SARS-CoV-2. Hal ini membuat kinerja PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) menurun.

Pada kuartal I-2020, SCMA mengantongi pendapatan Rp 1,3 triliun, angka ini naik tipis 4,32% secara tahunan. Sementara, laba bersih Surya Citra Media turun 22,11% menjadi Rp 311,52 miliar di kuartal I 2020, dikutip dari Kontan (02/05).

Analis Panin Sekuritas Rendy Wijaya menuturkan bahwa efek penurunan belanja iklan bagi pemasukan industri media baru terasa di Maret 2020.

Tak ayal bila pendapatan iklan Surya Citra Media di kuartal I-2020 masih positif. Pendapatan iklan menyumbang Rp1,52 triliun terhadap pendapatan SCMA, tumbuh 2,7% secara year on year (yoy).

“Kami memperkirakan, perusahaan akan menghemat anggaran dengan mengurangi anggaran belanja iklan untuk menjaga likuiditas di tengah pandemi ini,” terang Rendy, Senin (01/06).

Namun, Rendy memproyeksikan bahwa kinerja SCMA di kuartal II-2020 akan tertekan secara signifikan, bahkan bisa menekan kinerja sepanjang tahun ini.

Mengantisipasi hal itu, Surya Citra Media membatalkan sejumlah acara demi penghematan.

Analis Indo Premier Sekuritas Elbert Setiadharma dalam riset pada 5 Mei 2020 menjelaskan, ada sejumlah acara dibatalkan, seperti acara Shopee dan Lazada.

Kendati demikian, Elbert percaya bahwa pengematan biaya yang dilakukan oleh SCMA bisa berdampak positif bagi margin perusahaan.

Selain itu, demi penghematan, Surya Citra Media menjalankan re-run sejumlah program dan produksi konten yang dihentikan.

“Meski dari segi permintaan re-runs cenderung rendah dibandingkan dengan konten baru, setidaknya dari segi biaya jauh lebih murah. Kami memperkirakan gross profit margin (GPM) pada akhir 2020 akan naik ke 50,5% dibandingkan 48,2% pada tahun 2019,” tutur Elbert.

Perihal re-run, analis Ciptadana Sekuritas Gani, dalam risetnya pada 18 Mei 2020, mengatakan bahwa penonton Surya Citra Media menjadi turun, khususnya di waktu prime time.

Pada 20 April, share penonton pada prime-time SCMA turun 370 bps secara month over month menjadi 29,7%.

“Berdasarkan pengamatan pada setengah bulan pertama Mei juga tidak mengindikasikan adanya kenaikan. Tetapi pada akhirnya, ini akan membuat peningkatan gross margin SCMA seiring biaya penyiaran dan produksi yang semakin murah,” ujar Gani.

Namun, menurut Rendy, SCMA masih bisa mendapat sedikit keuntungan dari pendapatan iklan–mengingat beberapa perusahaan seperti e-commerce dan juga barang konsumsi alias fast moving consumer goods (FMCG) lokal masih menggelontorkan anggaran untuk belanja iklan.  Ia menilai kinerja kedua jenis perusahaan ini minim terkena dampak pandemi.

Sentimen positif yang menurut Gani bisa berdampak bagi SCMA adalah kebijakan pelonggaran PSBB. Sebab pelonggaran PSBB bisa membuat SCMA kembali menjalankan produksi konten dan melanjutkan acara live dan olahraga.

“Untuk belanja iklan, kami melihat anggaran perusahaan masih minim setidaknya hingga kuartal III-2020, baru setelah itu akan perlahan naik kembali. Dengan demikian, setidaknya kedua hal tersebut dapat sedikit membantu pendapatan SCMA,” pungkasnya.

(LH)

About author

Related Articles