ADdiction

Emiten Barang Konsumsi Fokus Iklankan Produk Potensial

Addiction.id-Jakarta. Emiten sengaja melakukan penghematan selama pandemi Covid-19. Misalnya, memangkas anggaran, beban iklan, dan promosi. Emiten PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), misalnya.

Dikutip dari Kontan, perusahaan tersebut memang tetap  berinvestasi iklan dan promosi-19, namun tak sebesar biasanya. Direktur Keuangan Unilever Indonesia Arif Hudaya pun mengakui bahwa investasi pada keduanya sempat menurun di kuartal II 2020.

Sementara itu, di kuartal III 2020 kondisi mulai membaik.  Investasi iklan dan promosi pun mulai kembali seperti  sebelum pandemi. “Hal ini terefleksikan di kuartal III, di mana secara menyeluruh brand-brand kami tumbuh lebih besar dibanding market yang relatif turun di kuartal III,” ujar Arif minggu lalu.

Diketahui, investasi iklan dan promosi itu untuk produk-produk yang tepat dan kompetitif di pasar. 

Nyaris serupa, emiten kosmetik PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) melaporkan adanya sedikit penurunan rasio iklan dan promosi terhadap penjualan produknya. Menurut Sekretaris Perusahaan Mandom Indonesia Alia Dewi, penurunan ini sesuai dengan situasi pasar yang tak normal ini.

Berdasarkan laporan keuangan Januari–September 2020, TCID mencatat penurunan akun iklan dan promosi menjadi Rp40 miliar dari Rp65,62 miliar atau turun 39,04% year on year (yoy). “Secara value memang turun karena perubahan kebijakan yang lebih fokus ke aktivitas digital,” jelas Alia, Rabu (11/11).

Alia mengatakan, kondisi pasar saat pandemi Covid-19 memengaruhi periklanan dan promosi yang belum bisa dilakukan secara offline. Oleh karena itu, saat ini TCID lebih fokus berkampanye secara digital dan akan tetap menerapkan cara ini hingga akhir tahun.

“Memperbanyak digital campaign dan meningkatkan eksistensi di e-commerce,” ucapnya. Adapun TCID memprioritaskan  tiga merek utamamya seperti Gatsby, Pixy, dan Pucelle. 

Sementara itu, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mengaku menjaga rasio iklan dan promosi di level yang sama dengan sebelumnya. Direktur Keuangan Sido Muncul Leonard menyebut akan mempertahankan rasio iklan dan promosi terhadap penjualan agar di bawah level 10%.

“Masyarakat secara umum masih perlu waktu penyesuaian sampai benar-benar pulih kembali,” ujar Leonard. 

Pemangkasan pada akun biaya iklan dan promosi merupakan salah satu langkah yang dilakukan SIDO dalam menerapkan efisiensi operational expenditure (opex).

Akun iklan dan promosi dipotong lantaran menjadi salah satu komponen yang biayanya besar di laporan keuangan. Pihak SIDO pun menjadi lebih selektif dan efektif dalam beriklan dan promosi.

Hingga akhir 2020, SIDO memastikan akan menjaga ketersediaan produk kami di semua saluran atau channel penjualan. Di sisi lain tanggap terhadap permintaan produk yang dibutuhkan masyarakat Indonesia, serta menjaga ketersediaan bahan baku.

Untuk diketahui, hingga kuartal III 2020 SIDO mencatatkan promosi dan iklan hingga Rp 38,14 miliar. Jumlah ini menurun dari sebelumnya Rp 84,21 miliar atau ditekan 54,71% yoy.

PT Kino Indonesia Tbk (KINO) pun menyadari adanya kecenderungan di masyarakat untuk menahan belanja. Maka dari itu, pihaknya akan terus memantau pengeluaran dan menahan sejumlah segmen.

“Di sana kami melakukan pengurangan spending agar tidak membuang sumber daya secara percuma,” terang Direktur dan Sekretaris Perusahaan Kino Indonesia Budi Muljono, Selasa (10/11).

KINO diketahui memprioritaskan iklan dan promosi yang produk memiliki permintaan tinggi. Pandemi ini, kata Budi,  mengubah kebiasaan konsumen sehingga, pihak KINO harus menyesuaikan strategi.

(LH)

About author

Related Articles