ADdiction

Dituding Monopoli Bisnis Periklanan, Google Mengelak

Addiction.id-Jakarta. CEO Google Sundar Pichai dicecar banyak pertanyaan dari anggota parlemen di Komite Perdagangan Senat. Hal ini terkait gugatan Departemen Kehakiman terhadap bisnis periklanan Google.

Kendati di sidang difokuskan pada Section 230–undang-undang tentang pengawasan platform media sosial, gugatan Google tak luput dari pertanyaan tentang kekuatan pasarnya.

Untuk diketahui, gugatan itu menuduh Google terlihat perjanjian khusus dan praktik bisnis untuk mendapat keuntungan–dari penelusuran daring yang mendorong bisnis periklanannya.

Departemen Kehakiman menggugat Google dengan tuduhan bahwa perusahaan tersebut telah melanggar undang-undang antimonopoli federal, dilansir dari The Washington Post, Rabu (28/10).

Gugatan ini ditujukan pada kontrak Google dengan perusahaan lain, termasuk Apple–yang memprioritaskan layanan pencarian Google pada perangkatnya. Hal ini dianggap telah merugikan saingannya.

Gugatan tersebut dilayangkan dua pekan setelah panel DPR menerbitkan laporan tentang dugaan monopoli yang dilakukan oleh Google, Apple, Facebook, dan Amazon.

Sementara itu, Google menyebut gugatan Departemen Kehakiman ‘sangat cacat’. Ia menegaskan bahwa konsumen sejatinya punya pilihan untuk menggunakan layanan lain.

Senator Amy Klobuchar mempertanyakan Pichai tentang dugaan monopoli Google. Di lain sisi, ia menyarankan adanya perubahan kebijakan persaingan di negara tersebut.

Dia menilai respons Google ‘menyinggung’ dan ‘menantang’. Sebab perusuhaan ini menolak gugatan tersebut dengan, menegaskan bahwa layanannya bermanfaat bagi pengguna dan mengamini adanya persaingan yang ketat.

Sebelumnya, Pichai mengulangi poin-poin tersebut pada Rabu (28/10) di sidang Senat.

Saat bersaksi pada komite, Pichai mendesak parlemen untuk ‘berhati-hati’ terkait penggubahan pada Section 230. “Undang-undang, yang melindungi perusahaan teknologi dari tanggung jawab atas apa yang pengguna mereka unggah secara daring, melindungi kebebasan untuk membuat dan berbagi konten,” ujar Pichai.

Sebelumnya, Pichai sempat bersaksi di hadapan kongres srtekah muncul topik yang sama tentang bias antikonservatif pada Desember 2018. Pun dia bersaksi pada Juli dalam dengar pendapat tentang kekuatan pasar Big Tech, di mana dia membela perusahaan dengan mengatakan Google menguntungkan pengguna.

Saat ini, Google menghadapi gugatan antimonopoli yang berpusat pada pilihan konsumen dan bagaimana para pesaing dikotak-kotakkan.

Pichai bersikeras lbahwa Google tak bias secara politik, menggemakan pernyataan perusahaan terhadap masalah yang tidak berdasar ini.

“Biar saya perjelas: Kami mendekati pekerjaan kami tanpa bias politik, titik. Melakukan sebaliknya akan bertentangan dengan kepentingan bisnis dan misi kami, yang memaksa kami untuk membuat informasi dapat diakses oleh setiap jenis orang, di mana pun mereka tinggal atau apa yang mereka yakini,” pungkas dia.

(LH)

About author

Related Articles