ADdiction

Di Balik “Susi Susanti Love All”

Addiction.id-Jakarta. Sutradara film Sim F mengisahkan bagaimana awal mula penggarapan ‘Susi Susanti Love All’, di Epiwalk, Jakarta Selatan, Kamis (28/11).

Sim berkisah, obrolan soal menggarap film bersama ‘Damn I Love Indonesia’ sudah ada 7 tahun sebelum film ini tayang di bioskop. Namun, belum ada investor yang sepaham dengan proyek ‘Damn I Love Indonesia’.

Pada 2017, Sim mempunyai kesempatan bertemu Daniel Mananta.
“Daniel bilang ada proyek bikin film soal Susi Susanti. Kebetulan saya sendiri sejak kecil sudah familiar dengan sosok ini,” tutur Sim.

Film ini mengisahkan persepektif lain soal suksesnya Susi Susanti. Menurut Sim, selama ini kehebatan Susi ketika memenangkan kompetisi di Barcelona saja yang populer di masyarakat. Padahal ada hal yang nyaris dilupakan banyak orang.

Sim F saat konferensi pers film Susi Susanti Love All di Jakarta, 19 September 2019

Pada saat itu, Mei 1998 di Jakarta sedang ada kerusuhan. Di sisi lain, para atlet Indonesia sedang berjuang di Hongkong mengejar Piala Uber dan Thomas.

“Banyak atlet stress. Mereka panik soal keluarganya, takut kehilangan. Kebetulan beberapa atlet dari etnis Tionghoa,” lanjut Sim.

Perihal status kewarganegaraan sempat disinggung di film ini. Kendati belum diakui sebagai orang Indonesia secara administratif, Susi tegas mengaku berbangsa Indonesia saat diwawancarai wartawan luar negeri.

“Ini penting dan menarik,” seru Sim.

Sim pun mengaku memiliki pengalaman personal di masa kecilnya. Ia kerap kali dirundung lantaran beretnis Tionghoa dan bermata sipit. Bahkan ia tak berani keluar rumah.

Gua pasti dipalak, di-bully sipit. Itu membekas di diri gua,” katanya.

Namun, hal tersebut akhirnya yang menjadi motivasi baginya untuk menggarap film ini.

Sementara itu, penamaan judul film membawa kata “love all” berarti 0-0. Bagi Sim, makna dari kata itu adalah “kita dan musuh adalah sama”.

“0-0 kan mirror. Film ini membawa konsep mirroring. Karena kita dan musuh adalah sama, dalam melawan pun harus mencintai lawan, seperti mencintai diri sendiri. Sebenarnya, yang harus kita lawan adalah diri kita sendiri, kekhawatiran kita, ego kita, dan sebagainya,” katanya.

Ia pun mengatakan, pembabakan film tak terlepas dari konsep ini dan pribadi Susi menguatkan itu.

About author

Related Articles