ADdiction

Blokir Kata Kunci, Ada Kemungkinan Pengiklan Malah Danai Situs Palsu

Addiction.id-Jakarta. Ketika pandemi Covid-19 tengah memuncak di akhir Maret 2020, situs-situs berita seperti nytimes.com dan wsj.com tentu banyak meliput tentang pandemi tersebut. Namun, slot iklan di laman situs mereka dipenuhi dengan gambar awan putih dengan latar biru atau “cloud ads”. 

Sebetulnya, ini adalah teknologi keamanan merek, di mana pengiklan mengganti iklannya dengan iklan cloud, karena laman tersebut mengandung kata kunci seperti “virus”, dikutip dari Forbes, Sabtu (20/6).

Teknologi pemblokiran kata kunci merupakan salah satu teknologi yang telah bertahun-tahun digunakan. Penerbit yang baik telah kehilangan pendapatan dari iklan lantaran kata-kata yang mereka tulis di berita diblokir oleh merek. Meskipun, rubrik terkait medis dan kesehatan memiliki alasan logis untuk menggunakan kata-kata, seperti darah, diare, muntah, dan lain-lain. Namun, karena pemblokiran kata kunci, situs berita tidak mendapatkan uang dari iklan.

Diketahui sebelumnya, dalam siaran pers dan materi penjualan, keamanan merek perusahaan mengaku pihaknya menggunakan mesin analisa canggih, kecerdasan buatan (AI), dan mesin semantik untuk meminimalisasi pemblokiran kata kunci. Namun, penggunaan teknologi ini justru dinilai tumpul. Sebab selalu saja memblokir kata kunci pada laman. Buktinya apa yang terjadi pada WSJ dan NYTimes.

Kendati situs-situs berita arus utama tersebut mencatat kenaikan lalu lintas situsnya selama Maret dan April 2020, pendapatan iklan mereka tetap rendah lantaran pemblokiran kata kunci. Rupanya, teknologi keamanan merek perusahaan itu menarik iklannya dari situs berita utama, namun memberikannya kepada situs yang malah menyajikan berita palsu, pidato kebencian, dan disinformasi.

Teknologi keamanan merek itu diklaim bisa membantu pengiklan untuk menghindari menempatkan iklan di situs yang tidak pantas, seperti menaruh iklan di sebelah video pemenggalan teroris. Sejatinya demikian. Namun, teknologi ini gagal mendeteksi masalah keamanan merek yang sebenarnya.

Algoritma mengandalkan kata kunci, yang berarti penipu cerdik dapat menjiplak konten untuk situs palsunya dan mengecualikan kata kunci yang diketahui diblokir. Dengan cara ini, situs palsu mereka bisa terus menghasilkan pendapatan dari iklan.

Teknisi pun akan gagal mendeteksi teroris betulan yang menggunakan kata “roti”—bukannya “bom,  untuk menghindari deteksi. Masih ada banyak contoh lain di mana pada sejumlah situs dan laman, dengan analisa semantik, sepenuhnya dikategorikan salah oleh algoritma teknologi keamanan merek ini.

Misalnya,”menembak ” menjadi salah satu kata kunci yang paling sering diblokir. Meskipun terkadang memblokir sejumlah konten tentang kekerasan, istilah itu juga akan memblokir konten penggemar astronomi (bintang jatuh), penggemar olahraga (lingkaran penembakan), pengguna teknologi (pemecahan masalah), fotografer (memotret foto) dan pemain kartu (memotret bulan), dikutip dari AdAge.

Bagi para pengiklan, cara teraman untuk menempatkan iklan dan agar tidak kecolongan mendanai berita palsu adalah dengan membeli penempatan langsung dari penerbit terpercaya. Termasuk penerbit berita, yang membuat nama merek aman dan dengan tawaran tertinggi.

Sekadar informasi, data dari Lumen Research menunjukkan bahwa orang lebih memperhatikan iklan di situs berita; dan sekarang ini semakin banyak orang pergi ke situs berita. Lingkungan berita tidak kalah efektif dari situs penerbit lain yang memiliki pelanggan nyata.

Jadi, para pengiklan perlu mempertanyakan kembali apakah teknologi keamanan itu masih bisa diandalkan atau tidak, terutama ketika sudah jelas bahwa teknologi tersebut telah mendanai berita nyata dan mendanai situs berita palsu.

(LH)

About author

Related Articles