ADdiction

Apocalypse Zoom, Ruang Para Pelaku Industri Mencari Solusi Saat Pandemi

Addiction.id-Jakarta. Sejak virus Corona (SARS-CoV-2) menginfeksi dua orang di Kemang, Jakarta Selatan pada akhir Februari lalu, kiranya sudah dua bulan pandemi virus ini menjalar ke sejumlah wilayah di Indonesia.  Nyaris seluruh media berita mengabarkan kepiluan sejumlah pihak akibat pandemi ini, dari pemerintah hingga masyarakat biasa.

Pandemi ini tentu saja berimbas pada beragam sektor. Salah satunya industri. Selama pandemi ini, sudah banyak media yang memberitakan pemangkasan pengeluaran hingga produksi perusahaan tertentu. Mau tak mau industri mencari cara lain untuk tetap hidup.

Lantas apa yang seharusnya dilakukan pelaku industri di masa pandemi ini untuk mempertahankan eksistensinya?

Cerahati berinisiatif mengumpulkan para pelaku industri untuk berdiskusi terkait persoalan itu. Komunitas kreatif audio visual ini mengunggah hasil diskusi mereka di akun Youtube Cerahati New Media Works, dengan tajuk “Apocalypse Zoom”.

Creative Director Cerahati, Edy Susanto mengaku pihaknya ingin berkontribusi secara sosial di pandemi ini. Ia melihat banyak pihak yang membuat konten tentang pandemi ini dan penanggulangannya.

“Namun, kami perhatikan, sejauh ini belum ada konten yang membahas tentang cara menghadapi pandemi ini secara sosial dan ekonomi, terutama di industri kreatif,” lanjutnya ketika dihubungi Addiction, Sabtu (25/4). 

Oleh karena pertimbangan itu, lanjut Edy, Cerahati membuat seri diskusi “Apocalypse Zoom” untuk mencari jawaban dalam menghadapi pandemi ini, baik untuk Cerahati dan masyarakat luas.

Ia berpendapat, masalah pandemi global ini memang belum pernah dialami oleh siapapun. Tak pelak bila semua orang kebingungan dan mencari jawaban.

“Kami merasa cara mencari jawabannya adalah dengan bersatu, berdiskusi bersama dari berbagai kalangan. Saling mencari inspirasi, saling memberi ide,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Edy menjelaskan bahwa proses diskusinya sederhana. Timnya hanya mengandalkan aplikasi  Zoom sebagai platform diskusi yang kemudian direkam.

“Kami diskusi lewat Zoom. Diskusi kami berangkat dari pembahasan industri kreatif yang dekat dengan lingkungan Cerahati, seperti industri syuting, periklanan, musik, dan lain-lain,” lanjutnya. 

Edy juga mengaku sempat menghadapi kendala selama proses pembuatan seri diskusi itu. Hal yang paling bermasalah, menurutnya, koneksi internet ketika sedang berdiskusi lewat Zoom.

“Kita berhadapan dengan infrastruktur internet yang jelek di Indonesia. Kita dipaksa bekerja dari rumah dan mengandalkan koneksi internet untuk berhubungan, tapi infrastruktur internet kita belum mumpuni,” sambungnya.

Di sisi lain, ia bersyukur lantaran teman-temannya yang merupakan pelaku industri kreatif selalu bersedia ketika diajak berdiskusi.

Untuk ke depannya, Edy berharap skala diskusi seputar pandemi meluas dan mendapat dukungan, serta eksposur.

“Kami merasa diskusi ini, selain memang perlu untuk mencari jawaban, juga sebagai penanda zaman. Semoga selanjutnya lebih mendapat support dari berbagai pihak,” ujarnya.

Ia mengaku tak tahu sampai kapan diskusi ini akan berlanjut. “Dampak postpandemi juga rasa-rasanya akan masih panjang. Trauma orang untuk berkumpul dan berkegiatan, krisis ekonomi postpandemi, rasa-rasanya masih akan berlanjut,” jelasnya. Ia melanjutkan, jika diskusi berakhir artinya pandemi betul-betul selesai.

Sekadar informasi, seri diskusi “Apocalypse Zoom” terdiri dari sejumlah episode. Sejauh ini sudah ada lima episode yang tayang di Youtube dengan tema yang berbeda, dari industri musik, iklan, hingga pekerja event. Durasi video ini rata-rata 1,5 jam. Rencananya, setiap episode akan tayang setiap minggu. (LH)

About author

Related Articles