ADdiction

Acara Besar Ditangguhkan, Industri Iklan Terjun Bebas

Addiction.id-Jakarta. Bisnis periklanan tiba-tiba jatuh bebas saat perusahaan di seluruh dunia mencari tahu konsekuensi ekonomi dari pandemi virus Corona.

Sebagaimana diketahui bahwa Olimpiade ditangguhkan hingga 2021 dan hampir semua olahraga lenyap dari keseharian, kemudian toko, serta bioskop dan restoran ditutup. Tak pelak bila beberapa pengiklan dengan pengeluaran besar tak lagi mengudara.

Selain itu,  dikutip dari ncbn pada Rabu (25/3), hausnya hasrat masyarakat mencari informasi lewat berita saat ini, sebagian besar platform media tidak dapat memonetisasi lonjakan besar kunjungan. Padahal, pengiklan turut menyertakan kampanye terkait virus Corona di paltform berita–sebuah praktik yang dikenal sebagai daftar hitam.

Bahkan, Facebook yang biasanya biasa saja jika pengiklan mundur, mengatakan pada Selasa (24/3) bahwa iklan menurun. “Kami telah melihat melemahnya bisnis iklan kami di negara-negara yang mengambil tindakan agresif untuk mengurangi penyebaran COVID-19,” ujar perusahaan itu dalam sebuah pernyataan.

Twitter juga memperingatkan, pada awal pekan ini, bahwa angka kuartalannya akan dipengaruhi secara negatif oleh pandemi.

Dengan jutaan orang Amerika Serikat (AS) yang mengisolasi diri di rumah, sejumlah brand merenungkan apakah akan berinvestasi lewat iklan. Sebab ada kemungkinan penjualannya produk mereka sedikit—yang disebabkan oleh masalah rantai pasokan atau karena kekurangan staf. Atau  malah bisa saja, permintaan terhadap produk mereka tetap.

Bagi perusahaan pemasaran yang bergantung pada konsumen yang mengunjungi mal, makan di luar, berlibur, dan pengeluaran diskresioner lainnya, artinya perusahaan tersebut bisa kehilangan sebanyak $ 16 miliar. Peramal Industri Pemasaran Jack Myers memperkirakan, hal tersebut dapat terjadi jika ancaman global karena virus Corona terus berlanjut hingga paruh pertama tahun ini. pemasaran peramal industri Jack Myers mengatakan.

“Gejolak ini telah menyebabkan biro iklan terbesar di dunia memangkas biaya dan merumahkan staf lantaran proyek dibatalkan dan bahkan mempertimbangkan minggu kerja empat hari,” tutur Marla Kaplowitz, Presiden American Association of Advertising Agencies.

“Ini baru permulaan. Setiap agensi akan mempertimbangkan beragam hal, mulai dari memangkas gaji di tingkat senior, hingga mengurangi karyawan tertentu—tidak mungkin dapat bekerja dari jarak jauh atau yang tidak dibutuhkan saat ini. Akan ada banyak perubahan untuk mengelola bisnis dan aliran biaya,” lanjutnya.

Robyn Nagorsky, seorang produsen lepas yang berbasis di Atlanta, mengatakan bahwa ketika konsumen berhenti membeli, agensi iklan adalah yang pertama memangkas tenaga kerja. “Iklan adalah cerminan langsung ekonomi kita. Ketika ekonomi berhenti, iklan berhenti, ” sambungnya. Ia pun menekankan, ketika brand memotong anggaran, itu akan mempengaruhi staf pendukung—seperti katering dan pekerja keamanan.

Sejumlah prognostikator (pihak yang mempresiksi) industri mempertimbangkan kembali ekspektasi mereka, sembari memperkirakan pertumbuhan iklan—akibat dampak gejolak ini terhadap ekonomi pasar yang mencekik, dan juga adanya potensi juga mengacaukan pengeluaran iklan politik.

Harris Diamond, CEO raksasa iklan McCann Worldgroup, mengatakan adanya perubahan pun dapat mendorong mepertimbangkan ulang total pola pengeluaran untuk jangka panjang. “Kami berada pada titik perubahan di bidang e-commerce,” imbuhnya.

Diamond mengaku telah memperkirakan bahwa tindakan isolasi di rumah akan mempengaruhi orang lain—di luar amanat negara. Orang akan lebih jarang mengunjungi supermarket dan ritel. “Kami sudah melihatnya di Asia,” ucapnya.

Pekan lalu, analis tren eMarketer memperkirakan belanja iklan di Cina menurun sebesar $ 7,5 miliar, kendati masih diprediksi ada pertumbuhan di tahun ini.

Sebuah indikasi tentang apa yang dapat terjadi pada industri periklanan AS dapat diperoleh dari survei baru-baru ini tentang pengiklan di Cina—yang baru saja muncul dari karantina dan lockdown berbulan-bulan.

Reuters melaporkan, Majalah industri Cina Modern Advertising mengatakan 95 % responden memperkirakan pendapatan kuartal pertama mereka akan turun, dengan 53% dari mereka menyebut penurunan itu “parah” atau “menghancurkan”. (LH)

About author

Related Articles