ADdiction

5 Tren Digital Yang Harus Diantisipasi Para Brand di Tahun 2016

Man using a smartphone | Aulia Masna /AdDiction

Man using a smartphone | Aulia Masna /AdDiction

Dampak dan implikasi revolusi digital bagi perusahaan mempengaruhi cara kerja yang memaksa harus terus bergerak dinamis. Perusahaan yang gagal memposisikan dirinya di tengah perubahan teknologi dewasa ini cenderung menyadarinya dengan lebih menyakitkan.

Mobile masih dan akan terus menjadi daya tarik dalam beberapa waktu ke depan. Tren lainnya yang patut diantisipasi pada tahun ini ialah messaging platform, ad blocking, online video streaming, dan 360/VR video. Tren tersebut mungkin tidak menentukan hidup atau matinya sebuah perusahaan, namun mengantisipasinya untuk ikut ke dalam arus pasar yang lebih masif sangat layak dicoba.

Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 88 juta pengguna Internet, 79 juta pengguna aktif media sosial, dan 326 juta koneksi seluler. Laporan The State of Digital in 2016 dari We Are Social per Januari 2016 mengindikasikan bahwa pasar Indonesia cukup matang untuk mendorong perekonomian bangsa ke arah digital.

Masyarakat Indonesia memiliki kesempatan untuk mendapatkan dan mengumpulkan informasi lebih cepat di era ini. Sementara bagi merk, kesempatan ini bisa dimanfaatkan untuk mengkurasi pemahaman yang lebih terarah mengenai perilaku para konsumennya, memprediksi, atau bahkan mengembangkan solusi baru bisnisnya.

indonesia digital

Mobile
Secara global, angka pengguna unik mobile meningkat 4% jika dibandingkan dengan tahun lalu. Faktor yang mempengaruhi adalah kecanggihan perangkat dan ketersediaan akses mobile broadband yang lebih mumpuni. Di Indonesia sendiri 4G baru saja diimplementasikan pada akhir tahun 2015 dan kabarnya migrasi pengguna 3G ke 4G jauh lebih cepat dibandingkan 2G ke 3G. Sulit untuk tidak menyertakan teknologi mobile sebagai tren yang hangat dalam beberapa tahun ke depan.

Sebagai negara dengan label “mobile-first”, mayoritas masyarakat Indonesia tentu mengandalkan perangkat mobile sebagai gerbang utama untuk terhubung ke Internet dan media sosial. Google Consumer Barometer memperkuat pernyataan ini menunjukkan bahwa sebesar 43% masyarakat Indonesia telah memiliki smartphone. Laporan We Are Social juga menyebutkan rata-rata waktu penggunaan Internet melalui perangkat mobile adalah sekitar tiga setengah jam per harinya, dibandingkan dengan televisi yang hanya dua jam 22 menit.

Platform Pesan Instan
Tidak dapat dipungkiri lagi platform pesan instan merupakan hal yang tak bisa dilewatkan oleh nyaris sebagian besar masyarakat moderen. Jika disejajarkan dengan media sosial, WhatsApp, QQ, dan Facebook Messenger menduduki urutan kedua, ketiga, dan keempat secara berurutan sebagai platform yang terpopuler digunakan di dunia. WhatsApp baru saja mencatatkan perolehan total pengguna di angka satu miliar, sementara Facebook Messenger telah menembus 800 juta pengguna.

social platform

Peralihan perilaku dalam pemanfaatan aplikasi pesan instan nyatanya menjadi pilihan baru bagi para merk dan pengiklan untuk menjangkau audiens dengan lebih intim dalam pilihan yang lebih spesifik. Berbagi informasi dalam kalangan yang lebih akrab dianggap mampu menginisiasi proses advokasi sebuah pengalaman pribadi tentang sebuah merk yang terkadang jauh lebih berharga dibanding iklan konvensional.

Lembaga survei JakPat belum lama ini turut merilis laporannya yang secara mengejutkan menyertakan Snapchat sebagai platform media sosial terpopuler di kalangan remaja Indonesia. Path (yang kini kembali mengintegrasikan layanan pesan instannya dalam satu aplikasi) turut mencatatkan perolehan dan aktivitas pengguna yang sangat baik.

Ad Blocking
Tidak sedikit media maupun situs online menggantungkan nyawanya pada iklan-iklan yang ada di tiap sudut tampilan layanannya. Dalam beberapa kasus mungkin dianggap mengganggu, tetapi di sisi lain hal tersebut merupakan lumrah bagi pihak yang kesulitan melakukan monetisasi kontennya.

Monetisasi harus tetap berjalan demi keberlangsungan perusahaan, sementara pengalaman pengguna menagih kenyamanan yang kontra dengan keberadaan iklan. Tak hanya menggangu pandangan, faktor kecepatan memuat halaman dan konsumsi data yang boros turut menjadi pemicu penciptaan ad blocker. Laporan PageFair dan Adobe dalam Ad Blocking Report 2015 mengemukakan bahwa pertumbuhan tren ad blocking setahun terakhir ini mengalami kenaikan 41% secara global. Angka kerugian iklan yang terblokir diperkirakan sekitar USD 12 miliar sepanjang tahun 2015. Laporan yang sama turut menjabarkan perilaku ad blocking dalam beberapa situs yang memiliki demografis pemuda lelaki, tech-savvy, dan gemar bermain game.

Hal ini memaksa penerbit/media mencari alternatif arus pendapatan lain yang saat ini pilihannya masih belum tersedia dengan banyak.

global ad blocking

Apple turut meramaikan tren ini dengan mengizinkan para developer untuk membuat aplikasi ad blocker pada sistem operasi mereka. Samsung juga baru saja mengumumkan ketersediaan ad blocker yang disematkan pada web browser bawaan di perangkat Android mereka pada sistem operasi Lollipop.

Bukan tidak mungkin jika nantinya para pengiklan akan membanjiri kanal lain yang lebih masuk akal seperti Facebook dan Twitter. Seperti yang kita ketahui juga bahwa kedua platform tersebut berhasil merebut minat besar masyarakat Indonesia untuk mengkonsumsi berita dan informasi terkini.

Online Video Streaming
Secara konsep, online video streaming mungkin bukan lagi hal baru. Namun aplikasi Meerkat dan Periscope membawa babak baru dalam tren ini sejak awal 2015. Adopsinya masih relatif dalam skala kecil, namun di tahun 2016 ini trennya patut diantisipasi.

Menyiarkan video secara langsung memberikan pengalaman baru bagi konsumen untuk berinteraksi dengan merk favorit mereka. Twitter menginisiasi proses integrasi platformnya dengan Periscope sehingga memungkinkan merk dan pengiklan bergerak lebih gesit, memotong waktu untuk membangun kembali audiens dalam platform terpisah. Konsumen tak lagi sekedar bertemu secara digital namun ada visualisasi nyata yang membentuk ikatan dan komunikasi tersendiri.

Beberapa hari yang lalu, Facebook secara resmi merilis layanan serupa untuk perangkat berbasis iOS di Amerika Serikat. Dengan kesempatan para merk untuk berkomunikasi pada banyak audiens secara langsung, pemanfaatan online video streaming yang lebih umum hanya tinggal menunggu waktu.

360/VR Video
Virtual reality lebih dari sekedar hiburan dan permainan semata. Tren ini mulai mengubah dan menawarkan pengalaman baru di berbagai industri tak kecuali bisnis dan periklanan. Ketersediaan perangkatnya dipercaya akan terjual jutaan jumlahnya berdasarkan data dari Juniper Research. Variasi harga yang ditawarkan (bahkan Google Cardboard dapat diperoleh seharga sekitar Rp 40 ribu), memberikan tren ini alasan untuk lebih cepat diadopsi oleh berbagai kalangan.

Teknologi virtual reality maupun video 360 derajat memungkinkan merk untuk memperkenalkan produknya dengan lebih nyata. Meluncurkan prototipe dan melihat respon pasar lebih cepat tanpa membuang waktu dan sumber daya lainnya. Berbeda dengan penyiaran online yang mewajibkan merk dan pengiklan untuk tetap interaktif, virtual reality nampaknya menitikberatkan pengalaman langsung audiens dengan jalan cerita dan plot yang lebih kokoh.

 

Michael Erlangga adalah jurnalis pengamat dunia teknologi, digital, dan mobile

About author

Related Articles